Beranda » 2011 » April

Monthly Archives: April 2011

Mina Padi Mengangkat Petani Kab. Bandung

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

1259564p Mina Padi Mengangkat Petani Kab. Bandung 

Petani di Desa Wangisaraga, Majalaya, Bandung, Jawa Barat memanen ikan yang dipelihara di sawah, Rabu (20/4). Mina padi semacam ini membantu petani meningkatkan pendapatan dan dapat mendongkrak volume produksi padi.

BANDUNG, KOMPAS.com — Jam menunjukkan pukul 9.00 saat kolam ikan milik Mpep (38), di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, sedang sibuk-sibuknya dengan hilir mudik orang. Umumnya, mereka datang bersepeda motor membonceng bungkusan plastik berisi ribuan ikan-ikan seukuran jari jempol tangan yang ditimbang dulu sebelum akhirnya dilepaskan di salah satu kolam di dalamnya. Kolam Mpep sendiri berada di tengah daerah persawahan yang sedang memasuki masa tanam. Hijau.

Tak lama kemudian, ada seorang lagi yang menyusul datang ke kolam dan bertemu dengan Mpep. Sambil berbincang santai, transaksi pun dilakukan, Mpep menyerahkan sejumlah uang kepada sang petani yang bernama Eep Rahmat. Eep memiliki sawah seluas 100 tumbak atau 1.400 meter persegi yang menerapkan mina padi dengan ditanami benih ikan mas.

Dengan hasil panen sekitar 25 kilogram ikan yang masih berukuran kecil itu, Eep sudah bisa mengantongi uang Rp 280.000 nyaris tanpa melakukan apa pun. Benih ikan sebanyak lima gelas yang masing-masing berisi 1.000 benih ikan disebar ke sawahnya yang sedang memulai penanaman dan dipanen 25 hari kemudian, semuanya dikerjakan oleh pegawai Mpep. Petani tersebut juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk membeli benih karena semua ditanggung Mpep sejak awal dan baru dipotong setelah panen.

Mpep menuturkan, pengeluaran untuk membeli benih ikan sebesar Rp 45.000 dari lima gelas. Dari lima gelas yang bisa dipanen sebanyak 25 kg itu, ikan dia beli dengan harga Rp 13.000 per kg sehingga penghasilan kotor Eep adalah Rp 325.000. Pada saat pembelian kembali itulah, jumlahnya dipotong untuk benih sehingga Eep membawa pulang Rp 280.000.

”Saya juga pasang jaminan. Kalau sawahnya kena musibah seperti kena banjir sehingga benihnya hilang karena hanyut, sang petani tidak perlu membayar apa pun,” katanya.

Menurut Eep, penghasilan tambahan itu jelas menggiurkan. Dan bisa dilakukan setidaknya dua kali dalam setiap musim tanam, sekali pada awal penanaman dan berikutnya pada masa persiapan menjelang masa tanam selanjutnya. Dengan sawah berukuran 100 tumbak dia memang hanya bisa mendapat Rp 280.000 tapi sangat bermanfaat untuk dipakai ongkos menanam padi sehingga hasil panen padi bakal lebih banyak dia nikmati.

”Lumayan untuk simpanan mendadak bila dua anak saya yang masih kecil membutuhkan sesuatu,” ujarnya sambil tersenyum.

Keuntungan lainnya dengan bertani mina padi adalah sebagai jaring pengaman. Eep menuturkan bahwa dia bisa meminjam uang kepada bandar ikan untuk keperluan bertani seperti membeli pupuk dan dibayar dengan cara dipotong dari hasil panennya.

Mamat Rahmat, pedagang benih yang ditemui di Pasar Benih Ikan, bisa mendorong para petani anggotanya untuk tiga kali menebar benih di sawah mereka. Bagi petani yang menggarap lahan setidaknya 1 hektar saja sudah bisa mengantongi Rp 3,9 juta dari mina padi sehingga dalam satu masa tanam sudah bisa mengantongi keuntungan Rp 7,8 juta dari dua kali menyebar benih. Terbilang menguntungkan bila disandingkan dengan hasil panen yang mencapai Rp 12,5 juta.

“Pendapatan dari mina padi terkadang melebihi panen padi bila harga gabah sedang anjlok atau produksi terganggu karena hama,” ujar Mamat.

Mutualisme

Bagi Mpep, skema kerja sama dalam mina padi itu sama-sama menguntungkan. Petani mendapatkan keuntungan tambahan tanpa harus melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya karena memasukkan benih ikan hingga membawanya kembali ke bandar dilakukan oleh pegawai Mpep. Bagi bandar, dia bisa mendapatkan pasokan tetap ikan dengan jalan kerja sama dengan petani untuk dijual kepada pembesar ikan yang ada di waduk maupun kolam di daerah lain.

Para bandar ikan turut mereguk keuntungan karena tidak perlu memiliki kolam tersendiri untuk membesarkan dari benih ikan menjadi ikan berukuran 5 sentimeter. Mereka tinggal membeli dari petani mina padi dikurangi benih yang mereka keluarkan sebelumnya. Dari kolam tersebut, ikan dijual ke tempat pembesaran ikan dengan harga Rp 23.000 per kg. Dengan jumlah yang sama dengan ikan milik Eep misalnya, sang bandar bisa mendapatkan Rp 575.000 bila dijual ke pembesaran ikan.

Mpep mengungkapkan, dia bekerja sama dengan 100 petani yang tersebar di daerah Pacet, Majalaya, dan Ciparay, untuk melaksanakan mina padi. Setiap hari saja terdapat 150 kg ikan yang keluar masuk kolamnya, berarti uang Rp 3,5 juta yang sudah pasti dipegang. Sebagai bandar, dia hanya memiliki enam kolam penampungan berkapasitas 600 kg sebagai persinggahan dari petani untuk dikirim ke pembesar.

”Mina padi semakin banyak peminatnya, bila tahun 2004 saya hanya bisa menyebarkan 100 gelas benih ikan dalam sebulan untuk mina padi, tahun lalu sudah bisa mencapai 3.000 gelas dalam waktu yang sama,” katanya.

Mina padi juga membuat para pembenih ikan tersenyum lebar. Misalnya Asep Sukarsa di Ciparay, setiap bulan bisa menyuplai 2.000 gelas bagi Mpep. Semula, penyerapan benih ikan sedikit terganggu sejak kawasan pendederan ikan di Bojongsoang mulai beralih fungsi menjadi perumahan. Dengan mina padi, keadaan bisa lebih baik baginya.

Pertanian Terpadu

Dari sudut pandang Pemerintahan Kabupaten Bandung, mina padi adalah upaya meningkatkan kesejahteraan petani dengan memberikan nilai tambah. Pasalnya, 40 persen dari penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 3 juta menggantungkan hidup dari pertanian. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung menyebut 8.000 hektar lahan pertanian sudah memanfaatkan mina padi.

Baru seumur jagung menjabat sebagai Bupati Bandung, Dadang Naser berniat untuk menjadikan mina padi sebagai salah satu cara menyejahterakan masyarakat di daerah yang kualitas airnya masih terjaga. ”Mina padi adalah salah satu alternatif untuk menggantikan Bojongsoang yang beralih fungsi. Dengan demikian produksi ikan air tawar Kabupaten Bandung bisa terjaga,” ujarnya.

Untuk program mina padi, Pemkab Bandung menganggarkan Rp 100 juta dari APBD Kabupaten Bandung dan Rp 1 miliar dari APBN, hampir semuanya dipergunakan untuk pengadaan benih ikan maupun peningkatan kualitas benih melalui balai benih ikan. Dadang berjanji untuk mengusahakan dana tambahan untuk mina padi melalui APBD perubahan serta alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Asep Sukarsa yang menjadi pembenih sejak tahun 1991 menuturkan bahwa lebih baik pemerintah memfokuskan bantuannya kepada para bandar. Pasalnya, bandar menjadi muara dari pembenih, petani mina padi, serta pembesaran ikan. Bila bandar didukung dengan permodalan kuat, dia bisa lebih efektif dalam menyediakan bantuan kepada petani dalam bentuk pinjaman lunak, serapan benih ikan lebih tinggi, dan memiliki daya tawar untuk menjual ikan ke pemilik kolam pembesaran.

”Sudah bukan jamannya lagi bandar dan petani bermusuhan. Yang ada, sekarang semua saling bekerja sama,” kata Asep. (Didit Putra Erlangga Rahardjo/Mukhammad Kurniawan)

Terlalu, Ikan Lelepun Indonesia Import dari malaysia

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1′]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript'; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

Masih layakkah Indonesia menyandang predikat Negara Agraris ? Masih layakkah Indonesia digadang-gadang sebagai Negara Bahari? Negara Maritim? Bahkan julukan zamrud di Khatulistiwapun kini sudah kehilangan esensinya!

Mengapa? Karena Pemerintah Indonesia tidak hanya mengimpor garam , bawang merah tetapi sekarang juga mengimpor Ikan Lele dan Ikan Nila dari Malaysia.

Impor ikan tawar ini jelas memukul usaha kecil menengah karena harga produk Malaysia lebih murah yaitu ikan lele @ Rp 8.000/kg di tingkat pembeli. Sedangkan ikan lele lokal @ Rp 10.000/kg di tingkat Bandar. Untuk kemalangan yang menimpa para pembudi daya ikan air tawar di Jabar, mereka hanya disarankan untuk menerapkan praktek Cara Berbudi daya Ikan yang Baik (CBIB) tanpa dibantu proteksi yang seharusnya sebelum adopsi CBIB berhasil.

Padahal sebelum kedatangan lele impor ini, banyak anggota masyarakat seperti mantan pegawai yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), anak muda yang memulai wirausaha dan mantan supir angkutan umum yang berhenti karena makin sepi penumpang, menggantungkan asa pada agrobisnis yang “mudah, modalnya kecil tapi hasilnya lumayan”

budi daya lele

Mereka berburu hingga ke Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar ( BBAT) Sukabumi, untuk membeli benih unggul yaitu benih lele Sangkuriang dan benih Nila Gesit mengikuti pelatihannya dan mencoba membudidayakan dengan serius serta berharap dalam 3 bulan sudah bisa memanen lele atau 6 bulan memanen ikan nila ukuran konsumsi.

Langsung sukseskah mereka? Sayangnya tidak! Contohnya hanya 30 % lele berumur 3 bulan yang bisa dipanen karena sudah mencapai ukuran konsumsi. Selebihnya 30 %nya dalam waktu 6 bulan dan sisanya dalam jangka waktu satu tahun baru mencapai berat konsumsi.

Selain itu ada masalah berbagai macam penyakit yang menyebabkan sejumlah ikan mati. Demikian berulang kali, hampir tak pernah ada pembudi daya yang langsung meraup untung. Sekedar mencapai titik break event point atau kembali modal, mereka sudah bersyukur. Ketika akhirnya mendapatkan keuntungan yang layak, mereka harus menerima dampak kebijaksanaan pemerintah yang tidak berpihak. Kebijaksanaan yang membuat setiap entrepreneur pemula patah semangat. Sungguh disayangkan, lowongan kerja susah didapat eh mau menjadi entrepreneur malah bangkrut !

Bagaimana dengan para pembudidaya ikan air tawar di Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur ? Ternyata nasib mereka lebih apes karena pencemaran air dan serangan masal penyakit mengakibatkan jumlah kerugian mereka lebih besar khususnya pada panen menjelang lebaran tahun 2010.

Kebijaksanaan pemerintah Indonesia yang lebih membingungkan adalah dengan mengimpor garam dari Pakistan, Australia dan India dengan alasan curah hujan tinggi menyebabkan berhektar-hektar sentra tambak di Jabar tidak lagi berproduksi. Padahal Indonesia adalah negeri bahari, negeri maritim, negeri kelautan bukan sekedar negeri kepulauan. Jadi bagaimana mungkin Indonesia mengimpor garam sebanyak 1,6 juta ton garam dari total 2,6 juta ton kebutuhan garam nasional.

Bayu Khrisnamurti, Wakil Menteri Pertanian menyatakan bahwa Australia menjadi produsen garam terbesar di dunia karena menggunakan pipa kelaut hingga kedalaman 5 km yang dipompa dan diolah di pabriknya yang berteknologi tinggi.

Pertanyaannya : “Mengapa Indonesia menjadi salah satu “Negara Tertinggal” di Asia Tenggara?” Padahal Indonesia mempunyai banyak sumber daya manusia yang professional dan kekayaan alam yang mendukung pembiayaan.

Kisah miris lainnya adalah kisah bawang merah yang harganya dikisaran Rp 25.000/kg pada tingkat eceran, ternyata hasil impor juga. Pada awal tahun 2011, Indonesia mengimpor 17,25 juta kilogram senilai US$5,9 juta berasal dari negara Thailand , Filipina , Malaysia, Vietnam , Taiwán serta dari negara lain termasuk China. Impor bawang merah dibulan Januari 2011 tersebut melonjak 264% bila dibandingkan dengan realisasi impor Desember 2010 di kisaran 4,88 juta kg senilai US$2,7 juta dan melonjak 528 % dibanding Januari 2010
(year on year) sebesar 2,747 juta kg. Sedangkan realisasi impor bawang merah sepanjang 2010 mencapai 73,27 juta kg. Wow !

Jelaslah Indonesia tak bisa lagi menyebut negaranya Negara Agraris. Walaupun Indonesia mempunyai armada petani bawang merah di Brebes, kebijaksanaan yang tidak memihak menyebabkan harga bawang merah anjlok dikala panen sehingga petani yang sakit hati “rela” membuang hasil panen bawang merahnya di sepanjang jalan pantura.

Nasib petani gulapun tak kalah miris, banjir gula rafinasi yang bebas bea impor mengancam gula lokal walaupun tanaman tebu relatif lebih toleran terhadap perubahan iklim. Selain itu impor gula rafinasi seharusnya diperuntukkan bagi industri skala besar, industri kecil, dan industri rumah tangga yang betul-betul membutuhkan gula tersebut seperti industri makanan dan minuman. Di luar itu, peredaran gula rafinasi dilarang karena tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Tetapi pada kenyataannya 80 % dari total gula konsumsi adalah gula rafinasi. Padahal seperti yang dikatakan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sari stok gula di dalam negeri ini sebenarnya cukup walau tanpa mengimpor gula. Produksi nasional sekitar 2,3-2,4 juta ton. Sementara itu kebutuhan konsumsi rumah tangga hanya sebesar 2 juta ton.

Yang paling membuat gonjang-ganjing adalah harga cabai merah yang berada dikisaran Rp 25.000-Rp 40.000 sedangkan cabai rawit pernah mencapai harga Rp 120.000/kg. Tetapi nyatanya petani tidak menikmati harga tersebut karena harga cabai merah ditingkat petani hanya Rp 6.000 – Rp 9.000 sedangkan cabai rawit di tingkat petani Rp 40.000 – Rp 60.000. Untuk menyiasati harga cabai yang melambung Indonesia mengimpornya dari Thailand dan China tapi berimbas pada harga beli ditingkat petani.

Bagaimana dengan harga beras yang semenjak lebaran 2010 belum pernah turun? Ternyata Pemerintah telah memutuskan untuk mengimpor beras dalam bulan-bulan sebelum memasuki musim panen raya bulan Maret 2011. Kebijakan itu diharapkan mampu memperkuat stok beras Bulog dan meredam spekulasi. Tapi menohok para petani penghasil beras.

Yang terakhir adalah sanjungan Zamrud di khatulistiwa untuk Indonesia. Memangnya Indonesia masih layak? Deforestasi dimana-mana. Dalihnya pengalihan lahan tidak subur menjadi perkebunan kelapa sawit. Tetapi kok tanah subur di pulau Jawa juga ikut diembat ?

Dilain pihak, walau Indonesia menjadi pengekspor CPO terbesar kedua di dunia tetapi harga minyak goreng dalam negeri balap lari dengan harga pasar dunia. Hingga membuat terpuruk usaha kecil menengah yang menggunakannya.

Bagaimana nasib petaninya ? Ada sih yang kaya tapi segelintir. Segelintir yang tidak berarti dibanding tumbal yang harus dibayar karena hilangnya hutan, yaitu berupa pasokan sekian ton oksigen perharinya. Indonesia sudah tidak layak disebut sebagai paru paru dunia.

Bukan Zamrud di Khatulistiwa ! Bukan Negara Agraris ! Bukan Negara Maritim atau Kelautan !

Jadi, enaknya Indonesia dinamakan Negara apa ya ?

Punya usul ?

wajah zamrud khatulistiwa

sumber kompasiana.com

HOME

BACK to News

Budidaya Lele Organik Nan Gurih

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1′]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript'; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

 

fotoTEMPO Interaktif, Banyuwangi – Teletong alias kotoran sapi rupanya tak hanya bermanfaat untuk pupuk organik. Di Banyuwangi, Jawa Timur, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik. Tak perlu beli pakan, hasil panen ternyata lebih gurih.

Abdul Kohar, 48, salah satu petani Banyuwangi yang ikut mengembangkan budidaya lele organik mengatakan bahwa konsep budidaya lele organik mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup dan pakannya berasal dari bahan organik.

Di belakang rumahnya, Jalan Temuguruh, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, ia membikin 12 kolam berukuran masing-maisng 3,5 meter x 4 meter untuk membudidayakan lele organik sejak masih benih hingga siap konsumsi.

Menurutnya, berbeda dengan budidaya lele nonorganik, biasanya dilakukan tanpa perlakuan khusus dengan pakannya berasal dari pabrikan (pelet).

Hasilnya tentu saja berbeda. Ukuran lele organik ternyata lebih panjang, antara 25-30 centimeter dibandingkan lele biasa. Warna lele organik kemerah-merahan, terutama di bagin sirip dan insang. “Lele biasa warnanya sedikit lebih hitam,” terang Abdul Kohar, kepada Tempo, akhir pekan lalu.

Lele organik juga lebih menonjol dalam hal rasa. Tekstur daging lebih kesat, kenyal, dan gurih, hampir menyamai rasa lele yang hidup di alam bebas. “Dan tentunya, lebih sehat,” tegas petani lulusan Teknik Nuklir, Universitas Gajah Mada ini.

Membudidayakan lele organik memang membutuhkan keuletan tersendiri. Sebabnya, kata dia, setidaknya terdapat empat tahapan yang harus dilakukan. Tahap pertama, adalah penebaran benih lele pada kolam berisi air dan kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam tiga karung goni tertutup.

Kohar biasa menebar 21 ribu benih yang dibelinya dari daerah sekitar seharga Rp 25 per benih.

Bila benih berusia dua minggu, kemudian dilakukan seleksi untuk benih yang berukuran 4-5 milimeter. Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter.

Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter. Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele.

Lele organik, baru siap dipanen saat usianya delapan minggu. Kohar menceritakan, setiap kali panen ia bisa menghasilkan enam kuintal lele, dengan harga Rp 9 ribu perkilogramnya. Meski pasarnya masih seputar Banyuwangi, namun menurut dia, budidaya lele organik hemat biaya hingga 40 persen. Sebab ia tak perlu lagi membeli pakan pabrikan.

Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik. Sehingga ia tak perlu repot mengganti air dalam kolam. “Menghemat biaya dan tenaga,” kata ayah enam anak ini.

Di tangan Kohar pula, sisa air dalam kolam lele ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman padinya seluas satu hektar.

Kohar sebenarnya sudah akrab dengan pupuk organik sejak tahun 2005 lalu. Ia juga tercatat sebagai salah satu petani yang konsisten memakai pupuk organik untuk tanaman padinya. Sebelum membudidayakan lele organik empat bulan lalu, kotoran ternak sapinya yang berjumlah enam ekor langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S Sirtanio) Samanhudi mengatakan, budidaya lele organik di Banyuwangi masih dikembangkan oleh enam petani. Pasarnya juga masih terbatas di Banyuwangi.

Menurut dia, hal itu disebabkan karena budidaya lele organik masih tergolong baru sehingga belum populer di masyarakat. Lele, kata dia, masih menjadi makanan favorit di masyarakat. Namun kebanyakan yang beredar, mengandung residu akibat pemakaian bahan kimia yang tinggi. “Berbeda, kalau organik sudah bebas zat kimia,” terangnya.

Sementara ditilik dari segi gizi, kata dia, lele organik tingkat kolestorelnya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh. IKA NINGTYAS

Sumber : Tempo

HOME

BACK to News

Ikan Air Tawar Lokal Terpukul Ikan Malaysia

Lele Saurus, Kaya Protein

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1′]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript'; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();



Mengolah lele jumbo jauh lebih ribet ketimbang lele biasa. Kudu direndam bumbu 3-4 jam sehingga rasa dan aromanya, hmmm, tak terlupakan.
Mendengar nama resto yang satu ini, senyum akan segera muncul di wajah Anda. Lele Saurus, wah… bikin penasaran.

“Apa hubungannya dengan dinosaurus, ya?” Ketika disergap pertanyaan demikian, Dita Kristin, sang pemilik resto, seketika tergelak. “Ha-ha-ha… yang jelas ukurannya jumbo, mencapai 7 ons (minimal 5 ons). Dan boleh dibilang Lele Saurus pusatnya masakan lele terlengkap di dunia karena ada sekitar 35 pilihan menu dari lele yang siap disajikan,” kata ibu dua anak yang masih muda dan cantik ini.

Ya, jika Anda penggemar ikan, khususnya lele, tak ada salahnya mampir ke resto di bilangan Jalan Boulevard Raya J4 No. 8 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Resto waralaba yang pusatnya berada di Yogyakarta ini merupakan cabang ke-5 setelah Lele Saurus di Batam. Boleh pilih, mulai lele ukuran biasa yang digoreng garing, antara lain lele orisinal, lele penyet, lele crispy, lele kremes, lele asam manis, lele saus tiram, yang harganya cuma sekitar Rp 12.000 hingga Rp 13.000-an, hingga lele big size dengan menu tak biasa, seperti: lele saurus fillet, lele saurus balado, atau lele saurus mangut.

Lele ukuran besar yang di-fillet dan digoreng dengan tepung berbumbu racikan khusus Lele Saurus ini tak hanya memadukan cita rasa daerah ala Jawa Tengah atau Sumatera Barat, tapi juga Western dan Jepang. Silakan cicipi steak lele, spaghetti lele, atau lele ba
kar teriyaki. Hmmm… memang tak hanya lele goreng dan lele bakar, berbagai pilihan menu lele dimasak berkuah, saus, atau sambal. Malah, bagi pencinta pedas, selera makan Anda dijamin terpuaskan di sini. Coba saja nikmati menu lele yang paling digemari: lele saurus oseng mercon! “Lele goreng yang satu ini dimasak dengan sambal cabai rawit ‘super pedas’. Walau bumbu dasarnya sederhana, terdiri atas bawang merah, bawang putih, garam, potongan tomat segar, dan tentu saja cabai rawit, lele saurus oseng mercon kerap dicari penikmat kuliner lele. Tak perlu lihat menu lagi, begitu datang ke tempat ini, mereka langsung memesan lele saurus oseng mercon!” tutur Bambang, koki resto Lele Saurus. Lele saurus mangut, yang berkuah santan, pun tak kalah menggugah selera, sehingga amat direkomendasikan Bambang. “Makan ikan itu kan yang paling uwenak tenan, ya…kepalanya! Diolah dengan rendaman bumbu berempah, seperti kunyit, kemiri, ketumbar, santan, dan irisan daun jeruk, boleh diadulah rasanya!” Bambang menjelaskan.

Lele goreng yang dimasak dengan tauco special Pantai Utara, sehingga rasanya sedikit asin berpadu pedas, pun sama nikmatnya. Atau jika Anda lebih menyukai lele dengan bumbu bakar, Dita Kristin meyakinkan, selain bumbu bakar berkualitas, proses pemanggangan bersih dan sehat. “Lele bakar BBQ atau bumbu pedas spesial lada hitam kami dari Afrika. Lele bakar
berbalur mentega dan madu pun kami gunakan yang spesial, nomor satu. Lele digoreng dan direndam dalam minyak yang banyak dan bersih. Proses penggorengan tak digunakan berkalikali menggunakan minyak jelantah, begitu pun pemanggangan, yang menggunakan api sempurna sehingga pembakarannya tidak gosong membahayakan kesehatan,” ungkap Dita.

Lele Saurus mematok harga sedikit lebih mahal ketimbang lele ukuran sedang/biasa, berkisar Rp 35-50 ribu.
“Namun nilai nomimalnya sebanding dengan ukuran lele yang dipesan. Apalagi jika pengunjung yang datang adalah family: cukup untuk 4-5 orang!” imbuh Dita.

Tak usah ragu dengan mitos yang beredar bahwa lele berukuran “raksasa” alias jumbo cita rasanya akan hambar, tak semanis atau segurih lele berukuran kecil yang muda usia. “Yang penting cara mengolah dan menyajikannya. Malah, karena ukurannya lebih besar, proses merendam bumbunya jauh lebih lama. Kalau lele kecil hanya butuh 15 menit atau setengah jam saja, Lele Saurus justru perlu direndam bumbu dasar selama 3-4 jam agar benar-benar meresap dan enak rasanya saat diolah,” Bambang, juru masak asal Jawa Tengah, menjelaskan terperinci.

Aneka hidangan lele itu pasti lebih nikmat jika ditemani teh sereh hangat, yang juga menjadi andalan resto yang satu ini. Tertarik mencoba?
TIM INFO TEMPO

Sumber Koran Tempo


HOME

BACK to News


Jabar Pasok 100 Ton Lele ke Jabodetabek

Kamis, 07 April 2011 12:28 WIB     
Jabar Pasok 100 Ton Lele ke Jabodetabek
MI/Mohammad Ghazi/wt

BANDUNG–MICOM: Jawa Barat menjadi pemasok utama ikan lele ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) rata-rata 100 ton per malam untuk melayani warung-warung pecel lele di kawasan itu. 

“Jumlah pedagang pecel lele di Jabodetabek sekitar 25.000 kios. Rata-rata permintaan 100 ton per malam,” kata ketua kelompok budidaya Lele Sangkuriang Cijengkol Subang Khairuman di Bandung, Kamis (7/4). 

Menurut Khairuman, permintaan lele dari pedagang pecel lele itu sudah berlangsung sejak lama sehingga produktivitas benih sangat menentukan untuk menjaga kontinuitas pasokan. 

Permintaan 100 ton per malam itu baru dari pedagang pecel lele di Jabodetabek, belum permintaan dari pedagang pecel lele di sejumlah kota/kabupaten di Jawa Barat. 

“Potensi pasar lele cukup besar dan selama ini belum bisa terpenuhi. Budidaya lele mudah dan bisa dilakukan dalam kondisi cuaca atau musim apapun,” kata Khairuman. 

Pasokan lele ke Jabodetabek dilakukan dari sejumlah daerah antara lain dari Subang, Bandung, Purwakarta, Sukabumi dan Bogor. 

Sejumlah daerah yang membutuhkan pasokan lele dalam jumlah besar lainnya adalah Bandung, Cirebon, Tasikmalaya. Namun permintaan dari kawasan Jabodetabek meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 

“Permintaan pasar terus meningkat, demikian halnya permintaan benihnya. Sehingga Jabar belum bisa mengekspor benih seperti Jatim,” kata pria pembudidaya lele dan patin itu. 

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dibudidayakan secara luas oleh masyarakat terutama di Jabar. Potensi budidaya lele cukup tinggi karena budidaya dapat dilakukan di lahan dan sumber air terbatas dengan padat tebar tinggi. 

Selain itu teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, di samping pemasarannya relatif lebih mudah dan modal yang dibutuhkan rendah. 

Pengembangan budidaya ikan lele meningkat sejak tahun 1985 sejak maraknya jenis ikan lele dumbo, namun pengelolaan induk kurang baik sehingga lele dumbo mengalami penurunan kualitas. 

Di Jawa Barat, khususnya di Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol Subang telah dikembangkan pencetakan induk lele sangkuriang dalam rangka memperbaiki kualitas. 

Pembesaran lele bisa dilakukan di kolam irigasi, kolam tadah hujan dan keramba jaring terapung. 
(Ant/OL-9)

Lele Raksasa Bermahkota Ditemukan di Probolinggo

<img src=”http://us.images.detik.com/content/2011/04/01/475/lele-D.jpg&#8221; alt=”” hspace=”0″ vspace=”0″ border=”0″ />
(detiksurabaya/Hidayatullah)

Probolinggo – Warga Kota Probolinggo digegerkan dengan ditangkapnya ikan lele berukuran jumbo. Lele dengan panjang 105 centimeter ini tergolong aneh, karena pada bagian kepala terdapat bintik-bintik yang membentuk seperti mahkota.

Penangkapan lele jumbo ini berawal saat seorang pengunjung rumah makan terapung Haji Djam’an, di Jalan Gubernur Suryo melemparkan sisa makanan ke dalam kolam ikan, Jumat (1/4/2011). Seketika lele yang tergolong aneh ini langsung melompat dan memakan sisa makanan yang dilepmpar ke kolam.

“Saya melempar sisa makanan ke dalam kolam, tiba-tiba lele itu melompat, ya kaget saya,” kata Dewi, salah seorang pengunjung kepada wartawan yang menemuinya di rumah makan Haji Djam’an.

Mengetahui ada ikan besar di kolamnya, Lely, salah pegawai rumah makan langsung  menyuruh rekannya untuk mengambil pancing. “Melihat ada lele besar saya nyuruh teman untuk ambil pancing, lho ternyata lelenya ketangkap setelah dipancing dengan umpan  kepala ayam,” terangnya.

Beberapa warga yang penasaran dengan kabar penangkapan lele aneh itu langsung mendatangi lokasi. Sebagian warga mengatakan bahwa lele jumbo ini tergolong aneh karena di kepala lele terdapat bintik-bintik yang menyerupai mahkota.

“Aneh mas, di kepalanya ada mahkotanya. Belum pernah saya jumpai sebelumnya,” ungkap  Saiful, salah seorang warga yang penasaran dengan lele tersebut.

Sementara itu, pihak rumah makan terapung menyatakan jika sebelumnnya di kolam ikannya memang pernah ditaburi benih lele. Namun semuanya sudah dipanen. Dan kini isi kolamnya diganti ikan gurami.

“Padahal lelenya sudah dipanen semua. Mungkin ini sisanya jadi lele raksasa,” ujar Lely.

Saat ini, lele aneh dengan berat lebih sekitar 15 kilogram ini akan tetap dipelihara,  karena tergolong aneh. “Mau dipelihara terus saja. Eman karena besar dan aneh,” tegas Lely. (bdh/bdh)
Sumber : Detik Surabaya

HOME

BACK to News

Nutroffish

Selamat datang di  Nusantara Tropical farm and Fish atau yang di singkat NUTROFFISH (Sebelumnya bernama Omah Tani Indonesia) merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat perikanan dan pertanian.

Kegiatan NUTROFFISH bersifat non politis dan non kekerasan. NUTROFFISH didirikan pada tahun 2011 di Jakarta. Kegiatan utama NUTROFFISH saat ini adalah pendampingan kelompok tani khususnya pembudidaya lele, pembenihan, dan pengolahan hasil produksi olahan lele.

Pendirian NUTROFFISH dilatar belakangi fakta bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan maritim memiliki penduduk miskin terbesar dari sektor agraris dan maritim, ketidakberdayaan masyarakat pertanian dan perikanan sangat jelas bahwa program-program pemerintah yang hanya sekedar ke-proyekan tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan baik di pedesaan maupun perkotaan

NUTROFFISH sejak awal pendiriannya terus bekerja untuk menangani masalah kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat perikanan. NUTROFFISH secara konsisten bekerja dibidang pertanian dan perikanan serta memandang bahwa mensejahterakan petani adalah sebagai pintu masuk untuk menurunkan angka kemiskinan secara umum, yang pada akhirnya akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia.

NUTROFFISH berkantor pusat di Pedurenan-Jatiasih Kota Bekasi, yang fokus melakukan usaha kegiatan pemberdayaan urban farming, dan memiliki kantor perwakilan di Boyolali yang fokus menangani permberdayaan masyrakat pedesaan

Prinsip  NUTROFFISH:
Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan kesejahteraan bagi keluarganya, untuk itu pelaku usaha perikanan budidaya wajib didorong, difasilitasi dan dibuka seluruh akses untuk mengembangkan potensi dirinya .

Tujuan NUTROFFISH:
1.    Meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha perikanan dan pertaniaan rakyat;
2.    Membangun aturan bisnis sektor perikanan dan pertanian rakyat secara adil, transparan dan bertanggungjawab.

Kegiatan NUTROFFISH:

1.    Menjembatani kesenjangan informasi dan akses tentang regulasi, pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan dalam bidang produksi, termasuk sumber pembiayaan dan potensi pasar, dalam sektor perikanan dan pertanian budidaya.

2.    Melakukan pemetaan potensi sumber daya alam, produksi dan pangsa pasar serta memproyeksikan optimalisasi produksi dan kajian potensi pasar serta membangun jaringan kerjasama secara sinergis antar pelaku usaha perikanan dan pertanian budidaya dengan institusi lain yang terkait.

3.    Menyelenggarakan komunikasi antar anggota secara intensif, serta meningkatkan kualitas, kompetensi dan profesionalisme pelaku bisnis perikanan, secara konsisten dan berkelanjutan melalui kerjasama dengan lembaga yang kompeten.

Nutroffish tidak saja bertujuan Profit semata, namun kami menyajikan kiat menjadi peternak lele . Nutroffish menyediakan bibit lele yang berkwalitas dan bersertifikat. Anda ragu atau memiliki kendala dalam budidaya lele, jangan sungkan untuk berkonsultasi mengenai permasalahan budidaya lele.

Nutroffish melayani penjualan  bibit lele strain Paiton,  untuk para pembudidaya lele di JABODETABEK dan seluruh Nusantara Indonesia, Harga sangat menguntungkan, berkwalitas dan bersertifikat   Untuk pengiriman luar pulau harga yang kami tawarkan sudah termasuk ongkos kirim hingga bandara terdekat di kota tujuan.

info lebih lengkap kontak Jack  085287008272 atau: