Beranda » Budidaya lele » Mina Padi Mengangkat Petani Kab. Bandung

Mina Padi Mengangkat Petani Kab. Bandung

TWITTER

Anda Pengunjung ke

  • 70,487

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

1259564p Mina Padi Mengangkat Petani Kab. Bandung 

Petani di Desa Wangisaraga, Majalaya, Bandung, Jawa Barat memanen ikan yang dipelihara di sawah, Rabu (20/4). Mina padi semacam ini membantu petani meningkatkan pendapatan dan dapat mendongkrak volume produksi padi.

BANDUNG, KOMPAS.com — Jam menunjukkan pukul 9.00 saat kolam ikan milik Mpep (38), di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, sedang sibuk-sibuknya dengan hilir mudik orang. Umumnya, mereka datang bersepeda motor membonceng bungkusan plastik berisi ribuan ikan-ikan seukuran jari jempol tangan yang ditimbang dulu sebelum akhirnya dilepaskan di salah satu kolam di dalamnya. Kolam Mpep sendiri berada di tengah daerah persawahan yang sedang memasuki masa tanam. Hijau.

Tak lama kemudian, ada seorang lagi yang menyusul datang ke kolam dan bertemu dengan Mpep. Sambil berbincang santai, transaksi pun dilakukan, Mpep menyerahkan sejumlah uang kepada sang petani yang bernama Eep Rahmat. Eep memiliki sawah seluas 100 tumbak atau 1.400 meter persegi yang menerapkan mina padi dengan ditanami benih ikan mas.

Dengan hasil panen sekitar 25 kilogram ikan yang masih berukuran kecil itu, Eep sudah bisa mengantongi uang Rp 280.000 nyaris tanpa melakukan apa pun. Benih ikan sebanyak lima gelas yang masing-masing berisi 1.000 benih ikan disebar ke sawahnya yang sedang memulai penanaman dan dipanen 25 hari kemudian, semuanya dikerjakan oleh pegawai Mpep. Petani tersebut juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk membeli benih karena semua ditanggung Mpep sejak awal dan baru dipotong setelah panen.

Mpep menuturkan, pengeluaran untuk membeli benih ikan sebesar Rp 45.000 dari lima gelas. Dari lima gelas yang bisa dipanen sebanyak 25 kg itu, ikan dia beli dengan harga Rp 13.000 per kg sehingga penghasilan kotor Eep adalah Rp 325.000. Pada saat pembelian kembali itulah, jumlahnya dipotong untuk benih sehingga Eep membawa pulang Rp 280.000.

”Saya juga pasang jaminan. Kalau sawahnya kena musibah seperti kena banjir sehingga benihnya hilang karena hanyut, sang petani tidak perlu membayar apa pun,” katanya.

Menurut Eep, penghasilan tambahan itu jelas menggiurkan. Dan bisa dilakukan setidaknya dua kali dalam setiap musim tanam, sekali pada awal penanaman dan berikutnya pada masa persiapan menjelang masa tanam selanjutnya. Dengan sawah berukuran 100 tumbak dia memang hanya bisa mendapat Rp 280.000 tapi sangat bermanfaat untuk dipakai ongkos menanam padi sehingga hasil panen padi bakal lebih banyak dia nikmati.

”Lumayan untuk simpanan mendadak bila dua anak saya yang masih kecil membutuhkan sesuatu,” ujarnya sambil tersenyum.

Keuntungan lainnya dengan bertani mina padi adalah sebagai jaring pengaman. Eep menuturkan bahwa dia bisa meminjam uang kepada bandar ikan untuk keperluan bertani seperti membeli pupuk dan dibayar dengan cara dipotong dari hasil panennya.

Mamat Rahmat, pedagang benih yang ditemui di Pasar Benih Ikan, bisa mendorong para petani anggotanya untuk tiga kali menebar benih di sawah mereka. Bagi petani yang menggarap lahan setidaknya 1 hektar saja sudah bisa mengantongi Rp 3,9 juta dari mina padi sehingga dalam satu masa tanam sudah bisa mengantongi keuntungan Rp 7,8 juta dari dua kali menyebar benih. Terbilang menguntungkan bila disandingkan dengan hasil panen yang mencapai Rp 12,5 juta.

“Pendapatan dari mina padi terkadang melebihi panen padi bila harga gabah sedang anjlok atau produksi terganggu karena hama,” ujar Mamat.

Mutualisme

Bagi Mpep, skema kerja sama dalam mina padi itu sama-sama menguntungkan. Petani mendapatkan keuntungan tambahan tanpa harus melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya karena memasukkan benih ikan hingga membawanya kembali ke bandar dilakukan oleh pegawai Mpep. Bagi bandar, dia bisa mendapatkan pasokan tetap ikan dengan jalan kerja sama dengan petani untuk dijual kepada pembesar ikan yang ada di waduk maupun kolam di daerah lain.

Para bandar ikan turut mereguk keuntungan karena tidak perlu memiliki kolam tersendiri untuk membesarkan dari benih ikan menjadi ikan berukuran 5 sentimeter. Mereka tinggal membeli dari petani mina padi dikurangi benih yang mereka keluarkan sebelumnya. Dari kolam tersebut, ikan dijual ke tempat pembesaran ikan dengan harga Rp 23.000 per kg. Dengan jumlah yang sama dengan ikan milik Eep misalnya, sang bandar bisa mendapatkan Rp 575.000 bila dijual ke pembesaran ikan.

Mpep mengungkapkan, dia bekerja sama dengan 100 petani yang tersebar di daerah Pacet, Majalaya, dan Ciparay, untuk melaksanakan mina padi. Setiap hari saja terdapat 150 kg ikan yang keluar masuk kolamnya, berarti uang Rp 3,5 juta yang sudah pasti dipegang. Sebagai bandar, dia hanya memiliki enam kolam penampungan berkapasitas 600 kg sebagai persinggahan dari petani untuk dikirim ke pembesar.

”Mina padi semakin banyak peminatnya, bila tahun 2004 saya hanya bisa menyebarkan 100 gelas benih ikan dalam sebulan untuk mina padi, tahun lalu sudah bisa mencapai 3.000 gelas dalam waktu yang sama,” katanya.

Mina padi juga membuat para pembenih ikan tersenyum lebar. Misalnya Asep Sukarsa di Ciparay, setiap bulan bisa menyuplai 2.000 gelas bagi Mpep. Semula, penyerapan benih ikan sedikit terganggu sejak kawasan pendederan ikan di Bojongsoang mulai beralih fungsi menjadi perumahan. Dengan mina padi, keadaan bisa lebih baik baginya.

Pertanian Terpadu

Dari sudut pandang Pemerintahan Kabupaten Bandung, mina padi adalah upaya meningkatkan kesejahteraan petani dengan memberikan nilai tambah. Pasalnya, 40 persen dari penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 3 juta menggantungkan hidup dari pertanian. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung menyebut 8.000 hektar lahan pertanian sudah memanfaatkan mina padi.

Baru seumur jagung menjabat sebagai Bupati Bandung, Dadang Naser berniat untuk menjadikan mina padi sebagai salah satu cara menyejahterakan masyarakat di daerah yang kualitas airnya masih terjaga. ”Mina padi adalah salah satu alternatif untuk menggantikan Bojongsoang yang beralih fungsi. Dengan demikian produksi ikan air tawar Kabupaten Bandung bisa terjaga,” ujarnya.

Untuk program mina padi, Pemkab Bandung menganggarkan Rp 100 juta dari APBD Kabupaten Bandung dan Rp 1 miliar dari APBN, hampir semuanya dipergunakan untuk pengadaan benih ikan maupun peningkatan kualitas benih melalui balai benih ikan. Dadang berjanji untuk mengusahakan dana tambahan untuk mina padi melalui APBD perubahan serta alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Asep Sukarsa yang menjadi pembenih sejak tahun 1991 menuturkan bahwa lebih baik pemerintah memfokuskan bantuannya kepada para bandar. Pasalnya, bandar menjadi muara dari pembenih, petani mina padi, serta pembesaran ikan. Bila bandar didukung dengan permodalan kuat, dia bisa lebih efektif dalam menyediakan bantuan kepada petani dalam bentuk pinjaman lunak, serapan benih ikan lebih tinggi, dan memiliki daya tawar untuk menjual ikan ke pemilik kolam pembesaran.

”Sudah bukan jamannya lagi bandar dan petani bermusuhan. Yang ada, sekarang semua saling bekerja sama,” kata Asep. (Didit Putra Erlangga Rahardjo/Mukhammad Kurniawan)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: