Beranda » Budidaya lele » Budi Daya Lele, Gampang-gampang Susah

Budi Daya Lele, Gampang-gampang Susah

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 104,121

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com


IKAN lele tak asing lagi di telinga masyarakat kita, begitu merakyat. Di mana-mana mulai dari warung makan sampai restoran pasti ada menu lele, entah goreng atau masakan lain. Bahkan di Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pelajar, hampir di tiap ruas jalan ada warung lesehan pecel lele atau lele penyet, dan ini sangat disukai, terutama pelajar dan mahasiswa. Maklum, harganya terjangkau.

Sebenarnya dari mana suplai ikan tersebut, sehingga dapat memenuhi pasar di Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu penyuplainya adalah Mugiyono, petani lele dari Ngrajek, Mungkid. Dia lebih banyak menyebar bibit ke seluruh wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah. Tidak tanggung-tanggung, dia memproduksi lima juta bibit tiap bulan.

’’Kebanyakan yang mengambil bakul-bakul langganan. Mereka inilah yang kemudian menyebarkan ke para petani lele pembesar. Kira-kira hanya 30 % saja petani yang langsung ambil ke sini. Setiap harinya keluar bibit antara 100.000 ñ 200.000 ekor,’’ ujar Mugi yang kolam-kolam pembenihannya menggunakan nama Dumbo Jaya.

Pria setengah baya tersebut bisa dibilang pembibit terbesar di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tiap bulan dia mampu menyediakan lima juta bibit. Bibit yang diproduksinya beragam ukuran, mulai dari ukuran 4-5 cm, 5-7 cm, 7-9 cm hingga ukuran gendheng, seukuran lebih besar sedikit dari jempol tangan orang dewasa.

’’Besarnya bibit juga disesuaikan dengan permintaan pelanggan, namun petani ada yang mau membeli bibit gendheng, karena dalam waktu 45 hari sudah bisa panen dan risiko kematian kecil,’’ jelasnya.

Gandeng Petani

Mugiyono mengungkapkan untuk membuat bibit lima juta/bulan selain memakai lahan sendiri seluas enam hektare, juga menggandeng beberapa petani plasma, supaya bisa menjaga kontinuitas pasokan bibit. Sekitar 60% memakai kolamnya sendiri dan 40 % bermitra dengan plasma.
’’Namun, benih, pola pemeliharaan dan pemanenan tetap dalam pengawasan saya, mulai dari sejak tebar ukuran rete (kecebong) ke kolam sawah sampai pada umur 24-28 hari bibit sudah siap dipanen dan diedarkan petani pembesar,’’ tuturnya.

Usaha tersebut memang gampang-gampang susah namun tidak selamanya proses pembenihan berjalan mulus. Menurut dia, pada bulan-bulan tertentu seperti Agustus, September, Oktober pembenihan lele banyak mengalami kendala.

Kalau kurang cermat menangani, bisa berakibat kegagalan. Panen yang biasanya mencapai 70% ñ 90%, bisa drop dan hanya sekitar 30% saja yang bertahan hidup.

Lainnya mati atau tidak tumbuh (kecentet) akibat cuaca sangat dingin di musim pancaroba itu. Cuaca dingin menjadikan energi ikan habis hanya untuk bertahan dan bukan dioptimalkan untuk pertumbuhan. Kalaupun tidak mati, biasanya hanya kepala yang membesar dan tubuh tidak dapat berkembang. (Agung PW-24)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: