Beranda » Budidaya lele » Dari Menyimpan Padi hingga Ternak Lele

Dari Menyimpan Padi hingga Ternak Lele

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 100,838

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1’]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript’; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js’; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

Meski hanya punya 1 hektar sawah, Rodi memilih tidak menjual seluruh gabahnya musim panen ini. Petani di Panguragan Lor, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, ini hanya akan menjual setengah dari padi yang tiga hari mendatang akan dipanen.

Rodi yang juga bekerja di penggilingan padi milik KUD Gandasari, Panguragan, rela menahan keinginan memenuhi kebutuhan hidup sekunder untuk bisa menyimpan padi demi mendapatkan harga gabah yang lebih tinggi. Dua tahun ini ia mencoba menjual padi seusai panen raya. Hasilnya lumayan. Jika saat panen raya harga gabah hanya Rp 2.300 per kg kering panen, enam bulan kemudian, ketika gabahnya sudah masuk kategori kering giling, harganya menjadi Rp 4.000 per kg.

Dengan cara itu, kini Rodi tidak perlu berutang mencari modal untuk bertani karena keuntungan dari hasil menyimpan padinya cukup untuk modal dan memenuhi kebutuhan hidup.

Turida, petani yang juga anggota Gapoktan Mulyatani, Kecamatan Arjawinangun, juga sudah menerapkan pola serupa untuk anggota kelompoknya. Ketika musim panen tiba, petani anggotanya diminta menyimpan sebagian panen untuk diambil ketika paceklik.

“Rata-rata petani menyimpan 1 kuintal, dan hasil panen diambil pada musim tanam berikutnya. Hasilnya, mereka tak perlu beli beras saat paceklik, bahkan tak perlu utang tengkulak untuk modal tanam,” katanya, Sabtu (24/4).

Supadi, buruh tani di Desa Dukuh, Kecamatan Kapetakan, lain lagi. Karena tidak punya sawah, ia tidak bisa menggantungkan hidup dari hasil panen semata.

Ketika musim panen tiba, ia menjadi buruh tani dengan bayaran gabah 10-20 kg. Jika ia bekerja selama dua bulan penuh, yakni sebulan masa panen dan sebulan masa tanam, bapak dua anak ini bisa menyimpan 1-3 kuintal gabah untuk cadangan hidup 1-2 bulan mendatang. Untuk mencukupi kebutuhan lain, ia memilih bekerja sebagai peternak lele di lahan sewaan desa. Ketika musim paceklik, ia pun banting setir menjadi tukang becak. Dengan cara demikianlah, buruh tani ini bertahan hidup.

Terjerat utang

Sayangnya, cara-cara demikian belum tentu bisa diadopsi seluruh petani di Cirebon. Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Rianto Adiputra, ada sejumlah petani yang masih kesulitan menyimpan padi karena sudah telanjur terjerat utang, atau beban keluarganya terlalu berat dengan jumlah anak lebih dari tiga.

Ada pula yang tergiur membeli kebutuhan sekunder yang belum tentu bermanfaat, misalnya kredit sepeda motor yang uang mukanya murah meriah, atau fasilitas telepon seluler yang selalu membutuhkan pulsa. Akibatnya, persoalan rawan pangan tetap ada meski Kabupaten Cirebon adalah daerah surplus padi.

Untuk mengantisipasi kerawanan pangan itu, kini lumbung padi mulai dikenalkan lagi. Jumlah petani seperti Rodi dan Turida diharapkan bertambah. Mereka bisa tetap bertahan saat musim paceklik datang.

Peningkatan mata pencarian juga diterapkan. Selain bertani, petani juga dididik menjadi peternak, misalnya beternak sapi atau bebek. Dengan cara demikian, kehidupan buruh tani bisa sedikit lebih baik lagi. (Siwi Yunita Cahyaningrum)

HOME

BACK to News

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: