Beranda » abon lele » Usaha Sederhana Abon Lele Melanglang Hingga Ke Eropa

Usaha Sederhana Abon Lele Melanglang Hingga Ke Eropa

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 115,612

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1’]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript’; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js’; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

var JAThumbnail = new Class({ initialize: function(wrapper){ this._next = wrapper.getElements(‘.next’); this._prev = wrapper.getElements(‘.prev’); this._counter = wrapper.getElement (‘.counter .item’); this._items = wrapper.getElements(‘.thumbnail’); this._thumbbox = wrapper.getElement(‘.ja-thumbnail’); this._curr = 0; if (!this._items || this._items.length <= 1) return; this._firstrun = true; this._items[this._curr].setStyle('opacity', 1); this._items.each(function(item,i){ if (i != this._curr) this._items[i].setStyles({'opacity':0}); }.bind(this)); if (this._next) { this._next.addEvent('click', function (){ this.firstrun(); var next = this._curr 0?this._curr-1:this._items.length-1; if (this.fx) this.fx.stop(); this.fx = new Fx.Elements([this._items[this._curr],this._items[next], this._thumbbox]); var h1 = this._thumbbox.getCoordinates().height; var h2 = this._items[next].getCoordinates().height; this.fx.start ({‘0’:{‘opacity’:[0]},’1′:{‘opacity’:[1]},’2′:{‘height’:[h2]}}); this._curr = next; this._counter.innerHTML = this._curr + 1; }.bind(this)); } }, firstrun: function() { if (this._firstrun) { var coor = this._items[this._curr].getCoordinates(); this._thumbbox.setStyles ({‘width’:coor.width, ‘height’: coor.height}); this._items.setStyle (‘position’, ‘absolute’); this._firstrun = false; } }});$$(‘.ja-thumbnailwrap’).each(function(wrapper){ new JAThumbnail (wrapper);}); SEMARANG (Berita SuaraMedia) – Ikan lele ternyata tak hanya dapat diolah sebagai menu masakan berkuah atau digoreng dengan bumbu sambal pedas. Di tangan Murti Rahayu, daging lele dapat dibuat abon dengan nilai ekonomi yang menggiurkan. Bahkan, abon lele buatannya kini mampu menembus pasar ekspor.

Memanfaatkan lele dalam bentuk lain menjadi nilai tambah bagi Ny Hj Murti Rahayu. Pengusaha asal Majenang, Cilacap itu mencoba membuat penganan abon lele dan memanfaatkan kulitnya untuk dibuat keripik. Awalnya coba-coba. Ternyata rasanya tak kalah sama abon sapi. Banyak orang suka,” kata Murti, pengusaha kecil asal Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, akhir April 2010.

Selain dikenal sebagai daerah pertanian yang subur, wilayah Majenang sejak lama juga dikenal dengan perikanan daratnya. Air yang melimpah mendukung pengembangan usaha mina tersebut. Salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan warga setempat adalah lele.
Namun, melimpahnya lele kerap tak ditunjang pemasaran dan kestabilan harga. Banyak petani lele pun jatuh bangun.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi Murti yang juga menjadi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Majenang. Pada pertengahan tahun 2007, dia terpikir membuat penganan olahan dari lele yang dapat dijual kemasan dan punya nilai ekonomis tinggi.
“Bayangan saya yang pertama adalah mengolah lele menjadi abon. Daging sapi saja bisa jadi abon, kenapa lele tidak,” tutur ibu tiga anak ini.

Kebetulan, di rumahnya, sejak lama Murti membuka warung lesehan dengan menu aneka masakan ikan air tawar. Jadi, mengolah lele bukan hal baru.

Dibantu putri bungsunya, Indira K Paramita (29), Murti pun bereksperimen abon lele. Percobaan awal ini tak sepenuhnya berhasil. Sulit mengurangi tingginya kandungan minyak pada abon lele. Abon pun cepat tengik atau basi.

Selang beberapa hari, dia menemukan mesin pres tangan untuk mengurangi minyak. Sejak itu Murti berani menawarkan abon lele buatannya kepada teman dan tetangganya. Respons mereka positif. Abon lele Murti tak kalah dengan abon sapi.

Murti pun kian percaya diri. Tiga bulan setelah eksperimen, Murti mulai memasarkan abonnya yang bermerek Nazelia itu ke supermarket di Majenang dan Cilacap. Respons pasar lumayan. Dalam tiga hari abon lele itu ludes. Permintaan pun mengalir. Dia menjual abonnya seharga Rp 13.000 per satu kemasan plastik seberat 1 ons atau 100 gram.

Murti kian serius menekuni usaha abon lele. Selain celah pasar yang ada, usaha abon lele tak membutuhkan modal yang besar pada tahapan awal. Hal ini tak terlepas dari relatif murahnya harga ikan lele di Majenang.

Harga ikan lele hanya Rp 11.000 per kilogram (kg). Setiap kilogram menghasilkan 3 ons abon. Tiap 1 ons dijual Rp 13.000 sehingga keuntungan kotor tiga kali lipat. Keuntungan itu dikurangi biaya minyak goreng dan plastik kemasan. “Untung bersihnya 30-50 persen,” ungkap Murti.

Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Dari 10 kg lele, hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram. Keripik lele ini hanya jadi usaha sampingan Murti.
Kerupuk tengiri memang lebih terkenal sebagai oleh-oleh makanan dari Cilacap, namun bagi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Distrik Majenang itu tak ada salahnya memperkenalkan camilan ikan air tawar dalam bentuk berbeda.
Indira, putri Ny Murti mengatakan ketertarikan membuat variasi penganan lele terdorong oleh usahanya membuka warung makan lesehan yang menyediakan berbagai menu ikan air tawar.
Pasokan lele yang melimpah dari kelompok tani perikanan air tawar membuatnya tak kehabisan ide. Masa percobaan selama tiga bulan barulah menghasilkan produk yang akhirnya diterima pasar.
”Memang, sebelumnya di Boyolali sudah ada abon lele, tetapi kami mencoba mengenalkan sebagai salah satu oleh-oleh dari Majenang, Cilacap, dan sekitarnya,” jelas Indira di sela-sela pameran PKBL mitra binaan PT Pertamina di Mal Ciputra Semarang.
Kesulitan biasanya, dari 10 kg lele bisa diolah menjadi 3 kg abon. Lele diperoleh dari kelompok tani seharga Rp 11 ribu/kg. Setelah jadi abon, per ons dipatok Rp 10 ribu dan dipasarkan ke berbagai kota antara lain Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia.
Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Tetapi Indira mengaku agak kesulitan memasok dalam jumlah besar karena dari 10 kg lele hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram. Setiap bulan bisa mengolah sekitar 5 kuintal lele untuk abon.
”Lele dikukus, lalu diambil kulitnya dan dijemur selama tiga hari, selanjutnya digoreng. Tapi karena jumlahnya tak seberapa, belum dipasarkan biasanya sudah banyak yang pesan,” tutur Indira yang memberi merek abonnya dengan nama ‘Nazelia’.
Tak sulit membuat abon lele. Daging ikan lele dibumbui seperti dendeng dengan ketumbar, merica putih, bawang putih, dan garam serta gula. Setelah direbus dengan bumbu hingga meresap, barulah digoreng kering.

Daging lele dipres hingga seluruh minyaknya keluar dan tersisa serbuk halus kecoklatan. Rasanya manis gurih dengan aroma bawang dan ketumbar yang kuat. Ada pula yang dicampur dengan bawang merah goreng, seperti lazimnya abon sapi.

Abon lele dikemas dalam plastik berlabel. Setiap saat bisa dinikmati. Dengan rasanya yang gurih, abon ini cukup ditaburkan di atas nasi atau ketan hangat sebagai lauk.

Hingga enam bulan pertama, kapasitas produksi abon lele Murti hanya 3 kilogram lele per hari. Namun, seiring permintaan yang terus meningkat dan pemasaran yang kian luas ke kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Semarang, dan Purwokerto, kebutuhan bahan baku lele pun terus bertambah.

Apalagi, setelah dia mampu membeli mesin pres dari Surabaya, Jawa Timur, seharga Rp 2 juta, Murti kian percaya diri memasarkan produknya lebih luas. Dengan mesin baru itu, kualitas abonnya kian tinggi. Saat itu izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan sudah dikantonginya. Sertifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah menyatakan bahwa abon lelenya halal.

Pada pertengahan 2008, Murti menjadi mitra binaan PT Pertamina Cilacap. Selain membantu permodalan melalui kredit lunak, badan usaha milik negara tersebut juga membantu pemasaran dengan cara memfasilitasi mitra binaannya mengikuti pameran-pameran.

“Saya sangat bersyukur bisa difasilitasi mengikuti pameran. Rasanya tak mungkin kalau ikut pameran sendiri karena biayanya sangat mahal. Buat ongkos transpor, sewa stan, dan akomodasinya tinggi,” ujarnya.

Pameran produk kerajinan usaha kecil yang pernah diikutinya, di antaranya, adalah di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Keikutsertaan dalam aneka pameran tersebut sangat membantu Murti dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Pernah dalam sebulan dia mendapat kesempatan tiga kali pameran. Selain dapat memperkenalkan produknya, pada saat pameran Murti juga dapat menjual abonnya dalam jumlah lumayan besar.

Sayangnya, langkah kreatif Murti lewat abon lele itu kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat. Jangankan bantuan kredit, fasilitas mengikuti pameran pun tak pernah ada. “Pernah diajak pameran sampai pemda, tetapi semua biaya kami yang menanggung. Malah tombok. Padahal, katanya sudah ada dana dari APBD. Bukannya kami pelit, tetapi kami ini hanyalah perajin kecil. Toh, kalau produk kami dikenal, yang dapat nama pemda juga,” katanya.

Sejak tahun 2009, produksi abon lele Murti rata-rata per hari menghabiskan 10 kilogram lele atau 500 kilogram lele per bulan. Pasarnya pun kian luas hingga Jakarta, Bandung, dan Denpasar.

Untuk 10 kilogram lele dapat diolah menjadi 3 kilogram abon. Dalam sehari, rata-rata Murti dapat menghasilkan penjualan kotor Rp 300.000-Rp 400.000.

Saat pameran produk-produk khas Nusantara di Jakarta pada pertengahan 2009, produk abon lele Murti dilirik konsumen luar negeri. Salah satunya seorang distributor makanan asal Belanda. Sejak saat itu Murti mulai dapat mengekspor abon lelenya ke Negeri Kincir Angin itu.

Dalam sebulan, rata-rata dia dapat mengekspor 10 kilogram abon lele ke Belanda. Ekspor tersebut dilakukan melalui distributor di Jakarta.

“Daging ikan lele mengandung protein dan rendah lemak sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka yang berdiet lemak. Karena itulah, orang dari Belanda itu suka abon lele saya,” katanya.

Sebenarnya, selain dari Belanda, ada permintaan abon lele dari negara lain. Namun, karena belum memahami prosedur ekspor dan modal yang terbatas, dia belum berani mengambil kesempatan tersebut.

Meski demikian, dia sudah sangat bersyukur dengan apa yang diraihnya saat ini. Dia tak menyangka abon lelenya yang dibuat dengan cara sederhana itu kini melanglang buana hingga ke Eropa.

“Jumlahnya, sih, memang belum banyak, tetapi saya sudah sangat senang karena abon lele saya disukai banyak orang, bahkan sampai di luar negeri,” kata Murti. (fn/km/uk) www.suaramedia.com

HOME

BACK to News

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: