Beranda » beternak lele » Beternak Lele Berharap Bisa Untung Besar

Beternak Lele Berharap Bisa Untung Besar

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 106,569

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

var _gaq = _gaq || []; _gaq.push([‘_setAccount’, ‘UA-24009222-1’]); _gaq.push([‘_trackPageview’]); (function() { var ga = document.createElement(‘script’); ga.type = ‘text/javascript’; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’) + ‘.google-analytics.com/ga.js’; var s = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

Abdullah (61) menunjukkan benih-benih ikan lelenya yang mati. Di tengah cuaca yang tidak menentu sekarang ini, panas dan dingin berganti dalam waktu cepat, benih ikan mudah mati.
Parwanto (50), peternak benih lele yang juga tinggal satu kampung dengan Abdullah di Dusun Tegalrejo, Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, bernasib lebih buruk. Sudah dua kali tebar benih, semua mati.

Peternak lainnya, Ridwan (31), mengatakan, benih dapat hidup 50 persen sudah bagus dalam kondisi seperti ini. Biasanya, benih usia 1-2 minggu rawan mati. Parwanto menambahkan, masa transisi dari benih yang diberi makan cacing sutra menjadi benih yang diberi pakan jadi (pelet) juga menjadi masa rawan kematian bagi benih.

Meski demikian, peternak di Ngesrep masih lebih memilih beternak benih lele ketimbang memelihara lele konsumsi. Pasalnya, meski sering terjadi kematian, masih lebih menguntungkan. Dari satu induk dapat dihasilkan puluhan hingga ratusan ribu benih. Modal peternak hanya membeli induk dan pakan yang tidak terlalu banyak karena benih segera dijual pada usia 1 atau 1,5 bulan. Benih dijual Rp 15 per sentimeter.

Jika memelihara lele konsumsi, peternak harus membeli benih dan pakan yang harganya semakin melambung. Sumarno (45), peternak lele di Kampung Banyuanyar, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, juga lebih memilih beternak benih lele ketimbang lele konsumsi. ”Beternak lele konsumsi rekasa (sengsara),” kata Sumarno, Selasa (1/2).
Untuk memelihara 1.000 lele konsumsi membutuhkan modal Rp 575.000-Rp 875.000 tergantung jumlah pakan yang diberikan. Harga pakan Rp 210.000 per zak isi 30 kilogram, semula Rp 203.000. Menurut Sumarno, baik peternak benih maupun lele konsumsi masih bergantung pada pakan pelet buatan pabrik. Peternak telah mencoba meramu sendiri pakan, tetapi benih dan ikan enggan makan pelet buatan peternak.

”Saya pernah membuat pelet dari bekatul, tepung ikan, dan unsur lainnya sama dengan unsur pelet buatan pabrik, tetapi benih tidak mau makan,” kata Sumarno.

Kabar tentang rencana impor ikan lele membuat peternak terheran-heran, seperti Chozin, peternak lele konsumsi di Banyuanyar. Menurut dia, jika itu terjadi, akan semakin mengempas nasib peternak.
”Kalau konsumen mungkin semakin banyak yang makan lele karena harga lele impor lebih murah. Tetapi kalau peternak akan semakin sedikit jumlahnya karena kalah bersaing,” katanya.
Sumarno berharap pemerintah membantu peternak mencari solusi untuk pakan yang murah agar harga lele terjangkau masyarakat. Menurut dia, konsumsi masyarakat terhadap ikan, termasuk lele, masih rendah karena daya beli rendah.

Harga ikan lele dari peternak rata-rata Rp 10.000 per kg. Ikan ini akan diambil oleh para bakul yang akan menyetorkan ke agen. Oleh agen akan dijual secara eceran kepada pedagang pasar yang akan menjual kepada konsumen dengan harga Rp 14.000-Rp 15.000 per kg.

Di Kota Padang, Sumatera Barat, permintaan lele untuk konsumsi terus meningkat. Harga jual ikan lele yang kini mencapai Rp 12.000 per kg juga menarik minat masyarakat untuk membudidayakan lele.

”Perawatan ikan lele yang relatif tahan penyakit itu juga cenderung tidak sulit dan tidak membutuhkan teknik yang rumit,” kata Hajjah Syarwati (62), peternak lele di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Kamis (3/2).

Syarwati mulai menggeluti bisnis budidaya ikan lele pada 1980-an. Puluhan pebisnis ikan lele bermunculan dan belajar dari kisah sukses Syarwati serta turut menjadi penyerap tenaga kerja di wilayah tersebut. Jika pemerintah jadi mengimpor lele, bisa mematikan usaha peternak lele.
(SRI REJEKI/INGKI RINALDI)

Sumber : Kompas

HOME

BACK to News

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: