Oleh Fadel Muhammad
Sekitar tahun 1970-an, ketika saya menjadi mahasiswa ITB, saya begitu terkesan pada mata kuliah Filsafat Pancasila. Dosen yang mcngasuhnya begitu piawai menggugah nurani mahasiswa. Ini mendorong pengembaraan intelektual saya ke alam filsafat Literatur tentang Pancasila, saya baca mulai dari tulisan Soekarno, Notonagoro, dan masih banyak lagi.

Dalam satu scsi kuliah, dosen saya memberikan penjelasan tentang sila-sila Pancasila dan pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Artinya, antara sila-sila Pancasila itu saling berkaitan dan saling mcng-kualifikasi.

Kandungan Pancasila memuat pemikiran dasar tentang manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, masyarakat bangsa Indonesia. Sejak saat itu, saya mempunyai komitmen untuk mengimplementasikan Pancasila dalam dunia nyata sesuai kemampuan dan panggilan jiwa saya.
Pemahaman saya saat itu sangat naif. Saya menafsirkan nilai-nilai Pancasila sebagai pertanggungjawaban melaksanakan kehidupan keseharian dengan baik. Sebagai mahasiswa saya berjanji untuk berprestasi agar ayah dan bunda berbahagia, masyarakat di kampung halaman di Ternate dan Gorontalo bangga, dan saya menjadi percaya diri bahwa kelak saya akan menjadi manusia yang berguna di mata Tuhan Sang Pencipta dan masyarakat. Iniakhirnya mengantarkan saya menjadi mahasiswa teladan di ITB pada tahun 1975.

Pencerahan yang diberikan dosen saya tentang lima inti Pancasila, terdiri-dari Tuhan sebagai causa prima, Manusia sebagai makhluk individu dan sosial, “Satu yaitu kesatuan yang memiliki kepribadian sendiri, Rakyat sebagai unsur mutlak negara yang harus bekerja sama dan gotong royong dan Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya. Ini mendorong pengembaraan intelektual saya untuk mencari jawaban bagaimana cara mengamalkan nilai-nilai Pancasila hingga saya lulus sampai sekarang.

Sebagai insinyur muda berprestasi baik, saya mempunyai peluang untuk bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang sangat besar. Namun, kata-kata memiliki kepribadian sendiri, bekerja sama dan gotong royong, serta adil terus tcmgiang-ngiang di telinga saya. Oleh karena itu, saya memutuskan diri menapaki jalan wirausaha untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Saya bersama kawan-kawan mendirikan PT Bukaka dengan harapan kepribadian saya makin berkualitas. Saya juga bisa mengembangkan kerja sama dan gotong royong yang akhirnya memberikan sumbangsih kepada nusa, bangsa, dan negara melalui prestasi aksi dan prestasi hasil yang kamilakukan. Tcmyata, kemudian IT Bukaka berkembang pesat karena adanya kepribadian atau watak untuk berprestasi terbaik, di samping menjadi tempat yang subur untuk menyemaikan gotong royong.

Karya-karya Bukaka berupa pompa angguk, garbarata, dan mesin pembuat jalan sukses memikat hati Pak Harto karena dianggap membangkitkan rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa kita mampu berprestasi sama baiknya dengan orang di negara maju. Ini membangkitkan kebanggaan nasional dan sekaligus mempertebal rasa kebangsaan.

Pengembaraan saya terus berjalan bahkan semakin jauh. Ketika saya terpilih menjadi Gubernur Gorontalo, mata saya terbelalak dan pikiran saya risau. Saya melihat wajah kemiskinan yang nyata di Gorontalo, wajah keterbelakangan, wajah yatim.

Langkah awal yang saya lakukan adalah meningkatkan pendapatan masyarakat dalam tempo yang singkat dan cepat Melalui kebijakan ekonomi jagung, saya melakukan intervensi terbatas,menaikkan harga jagung dari Rp 400/kg menjadi Rp 700/kg. Dampaknya sungguh luar biasa. Kebijakan ini memotivasi orang untuk bcrckonomi dan saling bekerja sama untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Melalui ekonomi jagung, penduduk miskin Gorontalo berhasil dikurangi. Jika tahun 2000 jumlahnya masih 72,14%, pada 2004 menjelang masa berakhirnya jabatan saya yang pertama, menjadi tinggal 33,29%. Berkurang lebih dari 100%.

Peningkatan produksi jagung juga sangat luar biasa. Kalau tahun 2000 baru 118.000 ton, pada 2005 meningkat menjadi 450.000 ton. Ini berarti mampu memberikan dampak nyata pada kehidupan masyarakat Tahun 2009 produksi jagung Gorontalo bahkan mencapai satu juta ton dan pernah menikmati harga tertinggi sekitar Rp 3.000/ kg. Dari Gorontalo inilah gerakan swasembada jagung menyebar ke semua daerah hingga Indonesia sukses mencapai swasembada jagung.

Pembangunan yang berempati pada rakyat miskin temyata membawa dampak yang sangat luar biasa. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pun meningkat cukup tajam; jika tahun 2002 baru 64,1%, pada 2005 sudah mencapai angka 67,7% Umur harapan hidup penduduk meningkat; jika tahun 2002 hanya 58 tahun, tahun 2005 berhasil mencapai 65 tahun. Jumlah anakbersekolah juga semakin meningkat. Tcmyata ekonomi yang membaik telah membangkitkan rasa syukur kepada Allah SWT. Ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya jumlah orang Gorontalo menunaikan ibadah haji.

Saya, dalam rentang hampir 8 tahun menjadi gubernur, selalu tergoda bereksperimen bagaimana membuat rakyat tersenyum, hidup makmur, dan merasa diperlakukan adil dan hormat. Sehingga, di antara mereka tumbuh rasa welas asih dan saling tolong menolong sebagai fitrah makhluk Tuhan.
Upaya menafsirkan Pancasila ke dalam tindakan nyata selalu muncul dalam hati dan pikiran saya. Terlebih lagi, dalam memaknai Pancasila sebagai ideologi terbuka. Saya gundah setelah reformasi, ingatan kolektif kita terhadap Pancasila seakan hilang. Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional, kurang mendapat perhatian.

Momen Hari Kesaktian Pancasila diharapkan mampu menyadarkan kembali perlunya menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian. Mudah-mudahan kisah saya dapat menginspirasi kita semua dalam mengembangkan pemahaman implemen-tatif Pancasila. ***
Penulis adalah Menteri Kelautan dan Perikanan.