Beranda » Ikan Malaysia » Indonesia Impor Lele dan Teri

Indonesia Impor Lele dan Teri

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 115,612

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

Bogor, Kompas – Meskipun negara kepulauan dan lautnya terhampar luas, Indonesia masih harus mengimpor berbagai jenis ikan budidaya, mulai dari lele, teri, kembung, hingga patin. Ikan produksi Indonesia kalah bersaing dengan produksi negara lain karena mahalnya harga pakan.

”Industri pakan ikan dikuasai oleh segelintir perusahaan besar sehingga mereka mudah mengontrol harga,” kata Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Arif Satria, seusai seminar dalam acara ”Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia” di Bogor, Jawa Barat, Minggu (30/1).

Lele impor berasal dari Malaysia dan digunakan untuk memenuhi 40 persen kebutuhan lele di Batam dan sekitarnya. Sementara ikan kembung didatangkan dari Pakistan, patin dari Vietnam, dan teri dari Myanmar.

Selain itu, bahan utama pakan ikan berupa tepung ikan juga masih diimpor dari Cile.

Kondisi itu membuat harga pakan ikan mahal. Padahal, biaya pakan mengambil porsi 40 persen dari total biaya produksi.

Akibatnya, harga produksi lele Indonesia sudah mencapai Rp 8.000 per kilogram, sedangkan harga jualnya Rp 10.000 per kg. Padahal, harga jual lele impor hanya Rp 7.500 per kg.

”Jumlah impor ikan budidaya memang masih sedikit, tetapi kecenderungannya terus naik,” kata Arif.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, impor produk perikanan triwulan I-2010 mencapai 77 juta dollar AS. Padahal, impor periode yang sama tahun 2009 hanya 58 juta dollar AS.

Salah satu cara menghemat biaya produksi adalah dengan menurunkan harga pakan. Industri pakan ikan yang selama ini dikuasai perusahaan besar perlu diarahkan untuk bisa diproduksi perusahaan menengah dan kecil. Ketergantungan terhadap bahan pakan luar negeri juga harus dikurangi melalui riset yang terarah.

Kewirausahaan

”Sarjana-sarjana baru kita dapat dimanfaatkan untuk mendirikan industri pakan skala kecil dan menengah,” kata Arif.

Perguruan tinggi dapat dijadikan basis pembentukan wirausaha baru berbasis teknologi (technopreneur). Karena itu, pemerintah perlu menciptakan kondisi dan budaya kewirausahaan yang kondusif di kampus serta memberikan stimulus khusus agar muncul pengusaha- pengusaha baru.

Technopreneur penemu tomografi empat dimensi, Warsito Purwo Taruno, menegaskan, agar dapat menjadi technopreneur sukses, mahasiswa perlu memiliki jaringan yang luas, motivasi yang kuat, dan konsisten dalam bertindak.

Penciptaan wirausaha baru di kampus dinilai Aminudi, mahasiswa program sarjana Departemen Proteksi Tanaman, IPB, tidak cukup hanya dengan memberi bantuan modal. Mahasiswa juga butuh informasi, pendampingan, hingga pelatihan berkelanjutan. (MZW)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: