Beranda » Uncategorized » Kampung Lele Belum Berfungsi Optimal

Kampung Lele Belum Berfungsi Optimal

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 110,046

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

SIDOREJO – Kampung lele rakyat yang dibangun Pemkot Salatiga di Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Salatiga belum berfungsi optimal. Fasilitas seperti kolam dan kios pertokoan ternyata belum banyak dimanfaatkan warga.

Kolam lele misalnya, masih banyak yang kosong. Hal tersebut kemungkinan karena para petani yang memanfaatkan kolam ikan rakyat harus merasakan dampak musim kemarau ini. Akibat minimnya pasokan air, budidaya ikan lele tidak maksimal dan pendapatan petani menjadi minim.
Di kolam rakyat itu, terdapat 46 kolam dengan ukuran per kolam 5 x 10 meter. Hampir separuhnya tidak bisa difungsikan lantaran kekurangan air.

Junaidi (50), warga Jaten RT 04, RW 05 Pulutan, salah satu petani kolam mengatakan, kondisi kekurangan air itu sudah terjadi sejak empat bulan lalu. Pasokan air dari seluruh kolam itu mengandalkan aliran air sawah. Namun karena belakangan kekeringan, pasokan air menjadi berkurang karena harus bergantian dengan para penggarap sawah di sekitarnya. “Kondisi ikan tidak bisa berkembang maksimal. Kebanyakan ikan lele penyakitan mungkin karena kekurangan air. Tetapi kami masih bisa bertahan meski keuntungan sangat tipis,” katanya.

Seluruh kolam itu dikelola sepuluh kelompok petani. Masing-masing kelompok terdiri atas sepuluh orang. Setiap orang menjadapat jatah memenafaatkan satu kolam. Enam bulan pertama para petani tidak dipungut biaya sewa, namun enam bulan kedua harus membayar Rp 100.000 untuk setiap petaninya.

Kemarau

Begitu pula kios di kompleks kolam tersebut. Sepuluh kios di pertokoan kampung lele yang dibangun oleh Dinas Perikanan dan Pertanian (Dispertan) Kota Salatiga saat ini hanya ditempati oleh dua pedagang. Warga di sekitar lokasi enggan berjualan di tempat itu  karena sepi pembeli dan takut merugi

Salah satu pedagang yang menempati di pertokoan kampung lele, Rukhanah (60) mengatakan,  sejak dibukanya  kampung lele awal tahun lalu, pertokoan ini belum pernah dipenuhi pedagang. Beberapa pedagang yang pernah membuka usaha silih berganti menutup kiosnya, alasannya karena usahanya sepi.

Rukhanah yang telah mencoba mencari peruntungan selama empat bulan di pertokoan kampong lele tersebut mengakui,  usaha bubur ayam dan nasi soto yang dirintisnya selama ini sepi dari pembeli.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Dispertankan) Salatiga, Kurnia Hardjanti mengatakan, salah satu kendala bagi petani ternak lele di kampung lele saat musim kemarau keterbatasan akan pasokan air. (H32, J21-72) (/)

 

Sumber : Suara Merdeka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: