Beranda » Uncategorized » Kisah Lele dan Ratu Sampah

Kisah Lele dan Ratu Sampah

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 110,046

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

Cerita kehidupan pribadi yang mengharukan digabung dengan cerita tentang kesuksesannya, membuat Khilda Baiti Rohmah sukses memukau 312  peserta seminar peduli lingkungan. Jangan salah! Ini bukan cerita sukses biasa, lho. Tapi, sukses dalam hal mengolah sampah.

Cewek kelahiran 1988 ini tampil sebagai pembicara seminar nasional dengan tema ”Youth Green Style” yang diadakan oleh Biro Pecinta Alam Oxygen-16 pada Minggu (7/10) di Gedung Prof Soedarto, Undip. Penampilannya itu, bukan yang pertama, tapi sudah yang kesekian kalinya. Dalam kesempatan seperti itu dia tak lupa mensosialisasikan pengolahan sampah terpadu yang dia lakukan. Beberapa daerah sudah dikunjungi, seperti Papua, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

”Dulu saya punya mimpi ingin naik pesawat terbang keliling Indonesia gratis dan sekarang sudah bisa terwujud dengan menjadi penyuluh lingkungan pengolahan sampah. Bulan depan rencananya saya akan ke NTT,” katanya.

Diakui cewek lulusan teknik lingkungan Universitas Pasundan ini, untuk menumbuhkan semangat peduli lingkungan pada masyarakat memang susah. Apalagi, dalam hal mengolah sampah. Akan tetapi, dengan berbagai pendekatan ia bisa mengajak masyarakat mengubah sampah menjadi hal yang berguna lagi.

Rata-rata ia membutuhkan waktu dua tahun untuk beradaptasi dan pemetaan masalah. Seperti yang ia lakukan di Desa Ci Gundul, Sukabumi.

“Pertemuan pertama sampai kelima tidak dapat respon dari warga. Sampai akhirnya terbesit ide membuat pelatihan memasak aneka masakan lele. Nah, dari pelatihan memasak inilah, warga mau mengolah sampah dari sisa pelatihan memasak,” kenangnya sambil tersenyum.

Rahasia kepekaan terhadap lingkungan dan ide-idenya muncul dari berbagai buku yang ia baca. Sejak SMP, cewek yang kini mendapat julukan ”Ratu Sampah” itu mempunyai kebiasaan satu hari harus membaca satu buku. Kebiasaannya itu masih berlangsung sampai sekarang. (92)

sumber : Suara Merdeka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: