News & Artikel

TWITTER

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke

  • 100,838

Arsip

Alexa

>

Review www.omahtani.wordpress.com on alexa.com

Nutroffish

Selamat datang di  Nusantara Tropical farm and Fish atau yang di singkat NUTROFFISH (Sebelumnya bernama Omah Tani Indonesia) merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat perikanan dan pertanian.

Kegiatan NUTROFFISH bersifat non politis dan non kekerasan. NUTROFFISH didirikan pada tahun 2011 di Jakarta. Kegiatan utama NUTROFFISH saat ini adalah pendampingan kelompok tani khususnya pembudidaya lele, pembenihan, dan pengolahan hasil produksi olahan lele.

Pendirian NUTROFFISH dilatar belakangi fakta bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan maritim memiliki penduduk miskin terbesar dari sektor agraris dan maritim, ketidakberdayaan masyarakat pertanian dan perikanan sangat jelas bahwa program-program pemerintah yang hanya sekedar ke-proyekan tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan baik di pedesaan maupun perkotaan

NUTROFFISH sejak awal pendiriannya terus bekerja untuk menangani masalah kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat perikanan. NUTROFFISH secara konsisten bekerja dibidang pertanian dan perikanan serta memandang bahwa mensejahterakan petani adalah sebagai pintu masuk untuk menurunkan angka kemiskinan secara umum, yang pada akhirnya akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia.

NUTROFFISH berkantor pusat di Pedurenan-Jatiasih Kota Bekasi, yang fokus melakukan usaha kegiatan pemberdayaan urban farming, dan memiliki kantor perwakilan di Boyolali yang fokus menangani permberdayaan masyrakat pedesaan

Prinsip  NUTROFFISH:
Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan kesejahteraan bagi keluarganya, untuk itu pelaku usaha perikanan budidaya wajib didorong, difasilitasi dan dibuka seluruh akses untuk mengembangkan potensi dirinya .

Tujuan NUTROFFISH:
1.    Meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha perikanan dan pertaniaan rakyat;
2.    Membangun aturan bisnis sektor perikanan dan pertanian rakyat secara adil, transparan dan bertanggungjawab.

Kegiatan NUTROFFISH:

1.    Menjembatani kesenjangan informasi dan akses tentang regulasi, pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan dalam bidang produksi, termasuk sumber pembiayaan dan potensi pasar, dalam sektor perikanan dan pertanian budidaya.

2.    Melakukan pemetaan potensi sumber daya alam, produksi dan pangsa pasar serta memproyeksikan optimalisasi produksi dan kajian potensi pasar serta membangun jaringan kerjasama secara sinergis antar pelaku usaha perikanan dan pertanian budidaya dengan institusi lain yang terkait.

3.    Menyelenggarakan komunikasi antar anggota secara intensif, serta meningkatkan kualitas, kompetensi dan profesionalisme pelaku bisnis perikanan, secara konsisten dan berkelanjutan melalui kerjasama dengan lembaga yang kompeten.

Nutroffish tidak saja bertujuan Profit semata, namun kami menyajikan kiat menjadi peternak lele . Nutroffish menyediakan bibit lele yang berkwalitas dan bersertifikat. Anda ragu atau memiliki kendala dalam budidaya lele, jangan sungkan untuk berkonsultasi mengenai permasalahan budidaya lele.

Nutroffish melayani penjualan  bibit lele strain Paiton,  untuk para pembudidaya lele di JABODETABEK dan seluruh Nusantara Indonesia, Harga sangat menguntungkan, berkwalitas dan bersertifikat   Untuk pengiriman luar pulau harga yang kami tawarkan sudah termasuk ongkos kirim hingga bandara terdekat di kota tujuan.

info lebih lengkap kontak Jack  085287008272 atau:

Budidaya Ikan Lele Lebih Menguntungkan

Rabu, 08 Agustus 2012, 05:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, KOBA, BANGKA TENGAH  – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Heru Irianto P, mengemukakan budidaya ikan lele lebih menguntungkan dibandingkan sektor usaha lainnya karena tidak membutuhkan modal besar.

“Usaha budidaya ikan air tawar saat ini lebih menguntungkan dibandingkan sektor usaha pertanian, pertambangan dan lainnya karena tidak membutuhkan modal besar dan dapat menghasilkan dalam waktu sekitar tiga bulan,” ujarnya di Koba, Selasa (7/8).

Ia menjelaskan, untuk menghasilkan uang sekitar sebesar Rp 10 juta bukanlah hal yang sulit bagi seorang pembudidaya ikan lele karena uang sebesar itu dapat diperolehnya  dengan membudidayakan sekitar 4.000 ekor lele saja dengan asumsi harga mencapai Rp 25 ribu per kilogram. Modal itu, kata Heru, tidak sebesar jika kita ingin bergerak di usaha penambangan timah, perkebunan dan lainnya.

Budidaya lele juga tidak membutuhkan lokasi usaha yang terlalu luas, waktu menghasilkan lebih cepat, pelaku usahanya masih bisa membuka usaha lainnya karena lele tidak membutuhkan perawatan yang begitu ekstra dan lainnya, tambah Heru.

“Apalagi saat ini lokasi yang dapat dimanfaatkan menjadi kolam masih tersedia cukup banyak seperti di belakang pekarangan rumah dan lainnya, sehingga usaha tersebut dapat dijalankan setiap orang,” ujarnya.

Ditambah kebutuhan lele masyarakat dan pelaku usaha warung makan pecel lele saat ini terus meningkat dibandingkan sebelumnya seiring terus bertambahnya jumlah masyarakat yang membuka usaha pecel lele dan semakin terbiasanya masyarakat khususnya di Kabupaten Bateng mengkonsumsi ikan air tawar.

“Semua itu tentunya membutuhkan ketekunan dan keuletan dari setiap orang yang akan memilih terjun ke sektor usaha budidaya ikan karena jika profesi itu hanya dikerjakan setengah hati saja, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan,” ujar Heru.

Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Sumber: Republika

Petani Batam Tolak Lele Malaysia Kamis,

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM — Paguyuban pembudi daya ikan air tawar Kota Batam menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor wali kota setempat, Kamis (18/10). Mereka menolak impor ikan lele dari Malaysia.

“Stop penyelundupan lele dari Malaysia. Lele Malaysia yang masuk ke Batam ilegal,” kata koordinator aksi Ray Steven di Batam.

Ia meminta oknum yang terlibat dalam impor lele ilegal ke Batam diusut. “Pemerintah pusat telah melarang impor ikan dari Malaysia. Apalagi lele Malaysia haram sesuai dengan fatwa negara setempat. Hentikan lele dari Malaysia,” katanya.

Pengunjuk rasa juga meminta pemerintah mencopot Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan (KP2K) Batam karena dinilai tidak berpihak kepada petani ikan.

Pengunjuk rasa mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar jika dalam satu minggu Wali Kota Batam tidak memenuhi tuntutan mereka.

Wakil Wali Kota Batam Rudi mengatakan akan menuntaskan masalah tesebut dalam waktu satu minggu.

“Saya akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar lele dari Malaysia tidak lagi masuk ke Batam. Saya jaminannya. Kalau dalam seminggu tidak selesai, silakan cari saya,” kata Rudi. 18 Oktober 2012, 11:22 WIB

Redaktur: Hazliansyah
Sumber: Republika

Jabar Tutup Pintu untuk Lele Impor

 

Senin, 22 Oktober 2012, 14:20 WIB
benihikanjogja
Jabar Tutup Pintu untuk Lele Impor
Lele Sangkuriang

REPUBLIKA.CO.ID,KARAWANG — Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, akan menutup seluruh akses masuk ikan lele impor asal Malaysia. Mengingat, lele tersebut hasil perkembangbiakan dari limbah. Sehingga, bila dikonsumsi akan membahayakan.

“Kami akan tutup semua kran impor lele Malaysia itu,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, Ahmad Hadadi.

Saat ini, ikan lele tersebut baru masuk Indonesia melalui Batam. Sedangkan, ke Jawa Barat masih belum ada laporannya. Biasanya, bila ada barang impor harus punya rekomendasi dari dinas terkait. Termasuk ikan. Berarti, harus ada rekomendasi dari Dinas Perikanan. Akan tetapi, khusus untuk lele Malaysia ini, instansinya tidak akan mengeluarkan izin.

Selain akan melibas lele lokal, lele impor itu dinilai tidak sehat. Sebab, informasi yang beredar, lele asal Malaysia itu dibudidayakan di air limbah. Bahkan, ikan itu di Malaysia-nya dilarang untuk dikonsumsi. Akan tetapi, justru di impor ke Indonesia.

Harga lele impor itu, hanya Rp 9.000 per kilogram. Harga tersebut, jauh lebih murah ketimbang lele lokal. Sebab, harga Lele lokal mencapai Rp 13 ribu per kilogram.

Diakui dia, lele impor ini harus terus diawasi. Khawatir, masuk ke Jabar secara ilegal. Bila masuk, ikan ini akan membahayakan. Mengingat, kesehatannya tak dijamin. Selain itu, lele impor ini akan mengancam keberlangsungan produksi lele lokal.

Diakui Hadadi, seluruh kabupaten/kota di Jabar punya potensi budidaya lele. Namun, yang paling terkenal yaitu dari Bogor, Sukabumi, Cirebon dan Indramayu.

Hasil produksi lele lokal ini, mencapai 120 ribu ton per tahun. Cukup untuk menutupi kebutuhan lokal. “Sebenarnya, tidak ada masalah selagi lele impor itu tak masuk Jabar,” jelasnya.

Redaktur: Taufik Rachman
Reporter: ita nina winarsih
 
sumber: republika

”Malaysia Haramkan Lele, Kok Dijual di Indonesia”

TEMPO.CO , Batam: Peternak ikan lele di Batam memprotes maraknya ikan lele asal Malaysia dengan mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam, Kamis, 18 Oktober 2012. Mereka mempertanyakan banyaknya ikan lele Malaysia yang beredar di Batam.

Peternak ikan lele di Batam, Stefan, mengatakan, lele asal Malaysia itu haram, karena makanan ikan dari kotoran babi dan kotoran ternak ayam. “Majelis Ulama Malaysia (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) saja mengharamkan lele di sana, kok dijual di Indonesia,” kata Stefan.

Stefan meminta pemerintah dan Dewan melindungi peternak ikan lele agar mereka tidak gulung tikar. Sebab ikan lele asal Malaysia dijual dengan harga murah.

Pedagang lokal menjual ikan lele Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan ikan lele ilegal asal Malaysia dijual dengan harga Rp 9 ribu per kilogram. “Ini dumping namanya,” kata Stefan dalam orasinya.

Wakil Wali Kota Batam, Rudi, kepada para pendemo berjanji akan menindaklanjuti keluhan peternak lele di Kota Batam itu. “Beri kami waktu, akan kami selesaikan,” katanya kepada para pendemo ketika berada di depan kantor Wali Kota Batam. Rudi juga mengatakan dalam waktu tujuh hari pihaknya akan menyelesaikan permasalahan yang timbul terkait peternak ikan lele.

RUMBADI DALLE

Sumber : Tempo

Lele Malaysia Banjiri Batam, Peternak Lele Protes

 

 

TEMPO.CO , Batam: Peternak ikan lele di Batam berunjuk rasa mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam, Kamis, 18 Oktober 2012. Aksi mereka dipicu makin maraknya ikan lele asal Malaysia yang menyebabkan peternak lele di Batam terancam gulung tikar.

“Ikan lele diselundupkan, sebab bila secara legal pasti diketahui pihak karantina,” kata peternak lele, Stefan, kepada Tempo. Oleh sebab itu, pihaknya minta agar pemerintah dan Dewan melindungi peternak ikan lele agar tidak terjadi gulung tikar. Sebab ikan lele asal Malaysia dijual dengan harga murah.

Pedagang lokal menjual ikan lele Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan ikan lele ilegal asal Malaysia dijual dengan harga Rp 9 ribu per kilogram. “Ini dumping namanya,” kata Stefan dalam orasinya.

Para pendemo minta agar Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Batam lebih pro-aktif memikirkan anak negeri, dan tidak terpengaruh orang luar. Sebab impor ilegal tersebut selain menghilangkan pendapatan daerah karena tidak membayar pajak, juga tidak membayar bea masuk. Artinya merugikan negara.

Sebab bila ikan lele impor itu melalui jalur resmi, tak mungkin bisa menjual dengan harga Rp 9 ribu per kilogram, karena harus bayar bea masuk, biaya transportasi, dan keperluan lainnya. Selain itu, pengusaha lele Malaysia akan menekan dan menaikkan harga ikan lele bila diketahui peternak ikan lele di Batam gulung tikar. “Jadi sekarang saja harganya lebih murah,” katanya.

Wakil Wali Kota Batam, Rudi, kepada para pendemo berjanji akan menindaklanjuti keluhan peternak lele di Kota Batam itu. “Beri kami waktu, akan kami selesaikan,” katanya kepada para pendemo ketika berada di depan kantor Wali Kota Batam. Rudi juga mengatakan dalam waktu tujuh hari pihaknya akan menyelesaikan permasalahan yang timbul terkait peternak ikan lele.

RUMBADI DALLE

Sumber :Tempo

Mengapa Lele Digemari Warga Batam?

foto

 

TEMPO.CO , Batam: Peternak ikan lele di Batam memprotes maraknya ikan lele asal Malaysia dengan mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam, Kamis, 18 Oktober 2012. Mereka mempertanyakan banyaknya ikan lele Malaysia yang beredar di Batam.

“Ikan lele diselundupkan, sebab bila secara legal pasti diketahui pihak karantina,” kata peternak lele, Stefan, kepada Tempo. Oleh sebab itu, pihaknya minta agar pemerintah dan Dewan melindungi peternak ikan lele agar tidak terjadi gulung tikar. Sebab ikan lele asal Malaysia dijual dengan harga murah.

Meningkatnya kebutuhan ikan lele di Batam terjadi karena semakin banyaknya berdiri kedai-kedai pinggir jalan yang menjual pecel lele. Pecel lele tidak hanya menjadi sasaran para masyarakat biasa, tapi juga kelas menengah dan menjelajah ke hotel-hotel, puja sera, dan restoran.

Ikan lele merupakan ikan yang hidup di air tawar, sehingga masyarakat Batam sangat menyukainya. Sebab Batam sebagai daerah perairan, dibanjiri ikan laut.

Jumlah peternak ikan lele di Kota Batam saat ini sebanyak 2.000 orang. Mereka muncul sejak 1990 dengan 4.000 kolam serta 1.000 keramba. Para peternak lokal mampu memasok lele untuk masyarakat sebanyak delapan ton per hari, sedangkan kebutuhan riil sebanyak 16 ribu ton per hari.

RUMBADI DALLE

 

SUMBER : TEMPO

Kalsium Tinggi pada Tulang Ikan Lele

SOLO, KOMPAS.com- Tulang ikan lele dumbo (Clarias barrachus) yang selama ini hanya sekadar menjadi limbah ternyata bisa diolah menjadi kerupuk yang mengandung kalsium tinggi. Kerupuk tulang lele dumbo memiliki kandungan kalsium tertinggi, yakni mencapai 7.999 miligram dalam 100 gram kerupuk dibanding kerupuk lainnya, seperti kerupuk aci, kerupuk udang, dan kerupuk ikan tenggiri.

Kerupuk aci tidak mengandung kalsium, sedangkan kerupuk udang dan kerupuk ikan tenggiri masing-masing mengandung 332 mg dan 2 mg kalsium per 100 gram kerupuk.

Ini adalah hasil penelitian Oktaviana Rahmawati dan Pratama Rachmat, siswa SMA Muhammadiyah 1 Solo yang memenangkan juara III Bidang IPS dan Humaniora pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia yang digelar 9-14 Oktober lalu di Kementerian Pendidikan Nasional.

“Saya gemar makan ikan lele dan saya lihat tulang lele menumpuk dibuang begitu saja. Lalu tercetus ide untuk memanfaatkannya menjadi kerupuk,” kata Pratama.

Selain kalsium, tulang ikan lele dumbo yang diolah menjadi kerupuk juga mengandung fosfor, yakni 129,1 mg per 100 gram kerupuk serta mengandung kalori, protein, lemak, dan karbohidrat.

Tulang lele dumbo diolah dulu menjadi tepung sebelum dibuat menjadi kerupuk dengan tambahan tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu-bumbu dengan komposisi tertentu. “Kami uji coba berkali-kali setelah sebelumnya bertanya kepada perajin kerupuk, mencari di internet, dan mendapat bimbingan dari guru Kelompok Ilmiah Remaja di sekolah,” kata Oktaviana.

Pemilihan lele dumbo karena yang paling banyak digunakan saat ini di warung makan dan pemancingaan sehingga mudah diperoleh dan harganya lebih murah dibanding lele lokal. Selain mengandung kalsium tinggi, kerupuk tulang lele dumbo juga memiliki prospek tinggi untuk wirausaha. Dengan modal Rp 66.600 dapat diperoleh 1.022 kerupuk berukuran diameter 5 cm. Jika dikemas menjadi 102 bungkus dengan harga jual Rp 2.000/bungkus akan memberi keuntungan bersih Rp 137 .400.

Saat ini, menurut pembimbing KIR SMA Muhammadiyah 1 Solo, Sri Darwati, pihaknya berencana mendaftarkan paten atas temuan ini. Temuan siswa sekolah ini tahun 2002, yakni simplisia biji pepaya untuk obat cacing yang menang lomba tingkat nasional terlambat dipatenkan, sehingga digunakan oleh sebuah pabrik jamu tanpa izin.

“Kami terkendala mahalnya biaya pengurusan paten yang mencapai Rp 12 juta,” kata Darwati didampingi kepala SMA Muhammadiyah 1 Solo, Trikuat.

 

SUmber : Kompas

Kampung Lele Belum Berfungsi Optimal

SIDOREJO – Kampung lele rakyat yang dibangun Pemkot Salatiga di Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Salatiga belum berfungsi optimal. Fasilitas seperti kolam dan kios pertokoan ternyata belum banyak dimanfaatkan warga.

Kolam lele misalnya, masih banyak yang kosong. Hal tersebut kemungkinan karena para petani yang memanfaatkan kolam ikan rakyat harus merasakan dampak musim kemarau ini. Akibat minimnya pasokan air, budidaya ikan lele tidak maksimal dan pendapatan petani menjadi minim.
Di kolam rakyat itu, terdapat 46 kolam dengan ukuran per kolam 5 x 10 meter. Hampir separuhnya tidak bisa difungsikan lantaran kekurangan air.

Junaidi (50), warga Jaten RT 04, RW 05 Pulutan, salah satu petani kolam mengatakan, kondisi kekurangan air itu sudah terjadi sejak empat bulan lalu. Pasokan air dari seluruh kolam itu mengandalkan aliran air sawah. Namun karena belakangan kekeringan, pasokan air menjadi berkurang karena harus bergantian dengan para penggarap sawah di sekitarnya. “Kondisi ikan tidak bisa berkembang maksimal. Kebanyakan ikan lele penyakitan mungkin karena kekurangan air. Tetapi kami masih bisa bertahan meski keuntungan sangat tipis,” katanya.

Seluruh kolam itu dikelola sepuluh kelompok petani. Masing-masing kelompok terdiri atas sepuluh orang. Setiap orang menjadapat jatah memenafaatkan satu kolam. Enam bulan pertama para petani tidak dipungut biaya sewa, namun enam bulan kedua harus membayar Rp 100.000 untuk setiap petaninya.

Kemarau

Begitu pula kios di kompleks kolam tersebut. Sepuluh kios di pertokoan kampung lele yang dibangun oleh Dinas Perikanan dan Pertanian (Dispertan) Kota Salatiga saat ini hanya ditempati oleh dua pedagang. Warga di sekitar lokasi enggan berjualan di tempat itu  karena sepi pembeli dan takut merugi

Salah satu pedagang yang menempati di pertokoan kampung lele, Rukhanah (60) mengatakan,  sejak dibukanya  kampung lele awal tahun lalu, pertokoan ini belum pernah dipenuhi pedagang. Beberapa pedagang yang pernah membuka usaha silih berganti menutup kiosnya, alasannya karena usahanya sepi.

Rukhanah yang telah mencoba mencari peruntungan selama empat bulan di pertokoan kampong lele tersebut mengakui,  usaha bubur ayam dan nasi soto yang dirintisnya selama ini sepi dari pembeli.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Dispertankan) Salatiga, Kurnia Hardjanti mengatakan, salah satu kendala bagi petani ternak lele di kampung lele saat musim kemarau keterbatasan akan pasokan air. (H32, J21-72) (/)

 

Sumber : Suara Merdeka

Kisah Lele dan Ratu Sampah

Cerita kehidupan pribadi yang mengharukan digabung dengan cerita tentang kesuksesannya, membuat Khilda Baiti Rohmah sukses memukau 312  peserta seminar peduli lingkungan. Jangan salah! Ini bukan cerita sukses biasa, lho. Tapi, sukses dalam hal mengolah sampah.

Cewek kelahiran 1988 ini tampil sebagai pembicara seminar nasional dengan tema ”Youth Green Style” yang diadakan oleh Biro Pecinta Alam Oxygen-16 pada Minggu (7/10) di Gedung Prof Soedarto, Undip. Penampilannya itu, bukan yang pertama, tapi sudah yang kesekian kalinya. Dalam kesempatan seperti itu dia tak lupa mensosialisasikan pengolahan sampah terpadu yang dia lakukan. Beberapa daerah sudah dikunjungi, seperti Papua, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

”Dulu saya punya mimpi ingin naik pesawat terbang keliling Indonesia gratis dan sekarang sudah bisa terwujud dengan menjadi penyuluh lingkungan pengolahan sampah. Bulan depan rencananya saya akan ke NTT,” katanya.

Diakui cewek lulusan teknik lingkungan Universitas Pasundan ini, untuk menumbuhkan semangat peduli lingkungan pada masyarakat memang susah. Apalagi, dalam hal mengolah sampah. Akan tetapi, dengan berbagai pendekatan ia bisa mengajak masyarakat mengubah sampah menjadi hal yang berguna lagi.

Rata-rata ia membutuhkan waktu dua tahun untuk beradaptasi dan pemetaan masalah. Seperti yang ia lakukan di Desa Ci Gundul, Sukabumi.

“Pertemuan pertama sampai kelima tidak dapat respon dari warga. Sampai akhirnya terbesit ide membuat pelatihan memasak aneka masakan lele. Nah, dari pelatihan memasak inilah, warga mau mengolah sampah dari sisa pelatihan memasak,” kenangnya sambil tersenyum.

Rahasia kepekaan terhadap lingkungan dan ide-idenya muncul dari berbagai buku yang ia baca. Sejak SMP, cewek yang kini mendapat julukan ”Ratu Sampah” itu mempunyai kebiasaan satu hari harus membaca satu buku. Kebiasaannya itu masih berlangsung sampai sekarang. (92)

sumber : Suara Merdeka

Proyek Pengasapan Lele Mangkrak

16 March 16th, 2012 | |

lele 300x249 Proyek Pengasapan Lele Mangkrak

artikel Suaramerdeka

INFOSOLORAYA.COM-BOYOLALI- Sepuluh unit fasilitas pengasapan lele di Kampung Lele, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit dibiarkan mangkrak. Bahkan beberapa di antaranya belum pernah dipakai sama sekali oleh para peternak lele setempat.

Berdasar pengamatan, fasilitas yang sudah lama tidak terpakai tersebut tampak tak terurus. Di sekitar bangunan bahkan ditumbuhi tanaman liar. Bangunan juga dibiarkan tidak terkunci.† Jalan masuk ke komplek tersebut belum dibangun dan masih berupa jalan tanah yang belum dipadatkan.

Menurut Sekretaris Desa Tegalrejo, Slamet Raharjo, fasilitas pengasapan lele tersebut dibangun 2009. Proyek tersebut berasal dari bantuan pemerintah pusat yang disalurkan melalui provinsi. Bangunan berdiri di tanah kas desa seluas 1.600 m2 dan dikenai sewa Rp 48 juta selama tiga tahun.

”Sebenarnya, beberapa unit di antaranya pernah dimanfaatkan oleh kelompok peternak lele. Namun praktis sepanjang 1,5 tahun terakhir fasilitas tersebut dibiarkan mangkrak,” katanya.

Dijelaskan, dua bangunan sudah dipakai oleh kelompok peternak Alang-alang dan  Karya Mina Utama (Karmina). ”Sedangkan  lainnya belum pernah digunakan sejak awal dibangun. Bahkan kini sewa tanah ke desa sudah habis sejak Agustus tahun lalu, jadi sudah diserahkan lagi ke desa.” (G10-50)

Sumber : Suara Merdeka